OPINI
Demi Penghematan BBM, WFH Diberlakukan, Solusikah?
Oleh: Rahmi Lubis, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
TanahRibathMedia.Com—Pengadilan Negeri (PN) bisa Medan mulai menerapkan work from home (WFH) setiap hari Jumat dalam sepekan. Hal ini berdasarkan Surat Edaran (SE) Mahkamah Agung (MA) Nomor 4 Tahun 2026 yang disampaikan secara langsung oleh Juru Bicara (Jubir) PN Medan, Soniady Drajat Sadarisman (Tribun, 14-04-2026). WFH berlaku khusus untuk aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan PN Medan, termasuk hakim. Meski demikian, hakim yang memiliki jadwal persidangan pada hari Jumat akan tetap melaksanakan sidang seperti biasa. Soni meyakinkan pelaksanaan kerja lewat metode WFH diharapkan tidak mengganggu jadwal sidang yang sudah ditetapkan.
Penerapan Work From Home satu hari sepekan (Jumat) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah hasil rapat terbatas presiden dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih pada 28 Maret 2026. Rapat tersebut membahas penyesuaian beberapa kebijakan yang terkait ekonomi dan energi sebagai langkah mitigasi risiko dinamika global dan penghematan energi.
Berdasarkan perhitungan pemerintah, kebijakan yang diberlakukan sejak 1 April 2026 ini diproyeksikan akan mengirit APBN sebesar Rp254,4 triliun. Hal ini mengingat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dan memengaruhi ketersediaan bahan bakar minyak nasional. Namun dibalik kebijakan yang diterapkan, Sebagian besar masyarakat masih mempertanyakan efektivitas tujuannya.
Benarkah diberlakukannya WFH semata untuk menghemat BBM? Apakah WFH bisa menghemat penggunaan BBM? Jawaban inilah yang masih menjadi misteri. Suatu kebijakan yang dinilai menjadi tameng untuk mengambil keuntungan pribadi dengan kesan untuk kepentingan bersama dan banyak orang. Kebijakan inilah yang dinamakan kebijakan populis dan pragmatis. Solusi hakiki sangat jauh dari kebijakan ini. Maka wajar saja, satu kebijakan diterapkan akan muncul masalah baru akibat dari penerapannya. Sekularisme melahirkan Kebijakan Populis dan Pragmatis.
Sistem kehidupan saat ini dikenal dengan sistem sekularisme. Sistem yang menjauhkan nilai kebenaran hakiki yaitu nilai keagamaan dari kehidupan. Manusia hidup di dunia ini berhak untuk menjalankan semua peraturan yang ia ciptakan dari pemikiran dan hawa nafsunya bukan dari sang Pencipta. Inilah kesalahan yang tidak disadari oleh umat manusia saat ini khususnya umat muslim. Sekularisme selalu memandang benar dan salah berdasarkan kepentingan dan manfaat sekelompok orang. Wajar saja, pemimpin dalam sistem ini akan memberlakukan peraturan yang bermanfaat bagi dirinya dan sekelompok orang yang berkepentingan. Rakyat hanya dipandang sebagai pijakan untuk berkuasa.
Kebijakan populis dan pragmatis merupakan satu-satunya solusi yang ditawarkan oleh pemimpin pada sistem sekuler ini. Dengan mengatasnamakan rakyat sebagai arah kepentingan namun sebenarnya hanyalah sebuah pencitraan diri bahkan solusi yang bersifat pragmatis yang merupakan penyelesaian pendek tanpa menyentuh akar masalahnya. Penghematan melalui WFH tidak menjamin penggunaan BBM akan berkurang. PNS tidak bekerja di kantor namun tidak menjamin mereka tidak bepergian keluar rumah. Ditambah lagi tidak adanya aturan untuk menjamin hal tersebut. Maka wajar saja, Jumat dijadikan sebagai akhir pekan dengan liburan panjang. Lantas masihkah kebijakan ini disebut kebijakan solutif?
Islam Solusi Segala Problematika Kehidupan
Penghematan BBM yang dilakukan semata dikarenakan konflik Iran-Israel dan Amerika yang masih berkelanjutan sampai saat ini. Melihat fakta ini harusnya kita berpikir cemerlang bagaimana mengatasi perang dua negara ini bukan malah menunggu dan menghindari dampak dari perang tersebut. Hal ini jelas hanya bisa terjawab dengan sistem Islam.
Sistem yang bersumber dari sang pencipta dengan kebenarannya yang hakiki. Benar dan salah seperti hitam dan putih yang jelas tampak perbedaannya. Bukan dari manfaat atau kepentingan sekelompok orang. Islam sebagai sistem kehidupan yang berlandaskan Al Quran dan As Sunnah sebagai indikator utama peraturan kehidupan. Hal ini sangat relevan dengan firman Allah yang tertuang pada Q.S. Al-anbiya:107 yang memuat makna Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Perang Iran vs. Amis ini harusnya usai dengan satu solusi yaitu satu kepemimpinan umat dalam naungan Khilafah Islamiyah. Jihad sebagai nadi bangkitnya negara. Maka perselisihan dengan kaum kafir pastinya dapat diberantas dengan bersatunya seluruh negeri muslim di dunia ini. Maka menghemat BBM bukan solusi akhir dari permasalahan ini, tetapi solusi yang jauh dari penyelesaian. Lalu pertanyaannya, mengapa kita masih bertahan pada sistem ini?
Wallahu alam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar