OPINI
Cinta Ditolak, Kapak Bertindak
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Beberapa waktu lalu kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau geger. Lantaran seorang mahasiswa berinisial RM melakukan pembacokan kepada seorang mahasiswi berinisial FA yang saat itu sedang mengikuti seminar proposal. Dalam peristiwa tersebut, korban mengalami luka parah pada tangan dan kepala hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sesaat setelah kejadian, RM pun langsung diamankan oleh pihak berwenang.
Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengungkapkan kasus penganiayaan berat ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi atau asmara. Belakangan baru terungkap bahwa RM berkali-kali mengajak FA berpacaran, namun FA menolaknya. Sehingga RM murka dan tega menganiaya korban dengan kapak dan parang. Pihak polisi sudah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi. RM akhirnya ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan (Metrotvnews.com, 26-2-2026).
Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler
Peristiwa penganiayaan tersebut sungguh sangat disesalkan semua pihak. Apalagi pelaku dan korban adalah mahasiswa. Lokasi kejadian juga di sebuah gedung perguruan tinggi Islam. Sebuah ironi yang tidak bisa dipisahkan dari peran mahasiswa yang seharusnya berfikir intelektual dalam menyelesaikan persoalan. Sungguh aksi kekerasan tidak layak dilakukan oleh mahasiswa apalagi motifnya hanya seputar asmara.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan hari ini telah gagal membentuk pemuda berilmu sekaligus berkepribadian mulia. Sekolah dan kuliah hanya sebatas meraih nilai prestasi akademik dan ijazah demi kepentingan kerja. Urusan nilai-nilai moral, agama dan kepribadian Islam tidak menjadi prioritas utama dalam kurikulum kita.
Paradigma pendidikan yang sekuler telah membentuk generasi yang jauh dari akidah, pola pikir dan pola sikap Islam. Kaum muda malah lebih dekat dengan nilai-nilai kebebasan dalam pergaulan dan bertingkah laku. Sehingga ketika ada persoalan mereka menyelesaikannya dengan kekerasan bahkan pembunuhan.
Normalisasi pacaran dan pergaulan bebas di tengah-tengah keluarga dan masyarakat muslim semakin tak terbendung. Padahal ini salah satu pemicu berbagai kasus kehamilan tidak di inginkan, aborsi, perselingkuhan, penyakit seksual menular, HIV AIDS, pelecehan, kekerasan bahkan pembunuhan sebagaimana kasus di UIN Suska tersebut.
Selain itu, berbagai konten media digital juga dibanjiri muatan pergaulan bebas, dan aksi kebebasan berperilaku tanpa batasan. Belum lagi game online juga banyak yang bermuatan kekerasan serta pornografi. Sehingga kaum muda yang saat ini banyak berinteraksi dengan media digital akan sangat terpengaruh konten-konten destruktif tersebut. Apalagi jika interaksi media digital atau game online sudah menjadi candu bagi kaum muda. Maka sudah bisa dipastikan mereka akan menjadi individu yang unsosial dan sering mendapat masalah dengan interpersonalnya saat bergaul di kehidupan nyata. Kaum muda akan menjadi generasi yang nirempati. Mereka cenderung individualistis serta akan mengambil solusi sebagaimana paparan media tanpa peduli apakah berbahaya bagi pihak lain atau tidak.
Peran negara dalam pembinaan kepribadian pemuda juga sangat minim. Sistem kapitalis telah mengarahkan peran negara sebatas pembuat regulasi agar kaum muda berdaya guna secara produktif dan penyumbang kemajuan ekonomi saja.
Islam Solusi Tindak Kejahatan
Sebagai agama yang sempurna Islam memiliki sistem kehidupan yang komprehensif. Mulai dari sistem sanksi pidana, sistem pergaulan, sistem ekonomi, sistem pendidikan hingga sistem pemerintahan atau khilafah. Berkaca dari banyaknya kasus kekerasan, pembunuhan, pelecehan seksual dan sebagainya pada saat ini. Maka sistem Islam adalah satu-satunya solusi.
Dalam sistem Islam, pendidikan berfokus pada pembentukan kepribadian Islam bagi peserta didik. Pembentukan kepribadian Islam dimakasudkan adalah membangun pola pikir dan pola sikap Islam. Sehingga setiap peserta didik berangkat ke sekolah atau ke kampus semata untuk mempelajari berbagai bidang ilmu, tsaqofah dan membentuk sakhsiyah atau kepribadian Islam.
Sistem pendidikan Islam juga memisahkan ruang pembelajaran antara murid laki-laki dan murid perempuan. Hal ini akan meminimalisir adanya stimulasi naluri seksual pada setiap pelajar. Sehingga tidak ada interaksi yang bebas antar lawan jenis yang mengarah pada perzinahan apalagi kekerasan dan pembunuhan dengan motif asmara di lembaga pendidikan.
Sistem pendidikan Islam juga berkolerasi dengan sistem pergaulan Islam. Melalui peraturan negara, setiap muslim dan muslimah wajib menutup aurat saat berada di area publik. Negara akan melarang aktivitas khalwat (pacaran) dan ikhtilat (campur baur laki-laki wanita tanpa udzur syar'i). Selain itu, bagi pezina yang sudah menikah akan dikenai sanksi rajam hingga meninggal. Lalu bagi pezina yang belum menikah akan di cambuk dan diasingkan. Begitu pula pelaku penganiayaan dan pembunuhan akan mendapatkan sanksi setimpal (jinayat).
Negara dalam hal ini Khilafah serta partai politik terus melakukan edukasi di tengah-tengah umat untuk menguatkan aqidah dan kepatuhan masyarakat pada syari'at Islam. Kontrol masyarakat melalui aktivitas dakwah juga sangat diserukan sebagai sebuah kewajiban yang utama. Begitu pula pembatasan konten-konten destruktif di ruang digital juga akan dilakukan negara demi menjaga generasi muda dari pengaruh negatifnya.
Khatimah
Demikianlah, syari'at Islam yang terterap secara sempurna dalam sistem khilafah melindungi umat manusia. Oleh karenanya sudah saatnya umat Islam meninggalkan sistem sekuler kapitalis lalu beralih pada sistem Khilafah. Karena hanya dengan sistem Khilafah yang akan memberikan mekanisme perlindungan terhadap kehormatan, nyawa, harta, serta keamanan bagi setiap yang bernyawa.
Wallahu alam bi showab.
Via
OPINI
Posting Komentar