OPINI
Board of Peace, Menambah Luka Palestina
Oleh: Yuliana, S.E.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Presiden Prabowo mengumumkan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) dalam kunjungannya ke Davos, pada 22 Januari 2026. Board of Peace (BoP) atau dewan Perdamaian, merupakan Organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. BoP aawalnya dirancang untuk mengawasi perdamaian 20 poin Trump untuk Gaza. Namun dewan ini memperluas fokusnya, sehingga tidak hanya pada zona konflik tersebut.
Pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Jared Kushner (menantu Trump) memaparkan rencana pembangunan ‘New Gaza’, yang dicirikan dengan gedung-gedung tinggi, dalam waktu 3 tahun. Ia menggembor-gemborkan target investasi US$25 miliar untuk membangun kembali infrastruktur Gaza yang hancur. Trump juga pernah mengemukakan visinya untuk mengubah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah”, yang memicu amarah seluruh dunia.
Sejauh ini, lebih dari 20 negara yang sudah bergabung dengan BoP termasuk Indonesia. Ada juga negara yang menolak karena menganggap dewan tersebut mengganggu tatanan internasioanal yang lebih luas.
Selain syarat undangan, terdapat mekanisme pembayaran iuran bagi para anggota Board of Peace. Negara yang diundang dapat bergabung secara gratis selama tiga tahun. Sementara itu, harga kursi parmanen di dewan direksi adalah US$1 miliar (sekitar Rp. 17 triliun) secara tunai dan dibayarkan pada tahun pertama (detiknews, 30 Januari 2026).
Pemimpin Muslim di Naungan Sekuler
BoP ini merupakan trik AS untuk menguasai sepenuhnya Gaza. Mereka telah merancang dengan sedemikian rupa untuk menata Gaza sesuai dengan keinginan mereka. Sadar atau tidak, bagi negara-negara yang bergabung, mereka dengan suka rela membantu dan memperkuat posisi Donald Trump dalam menggapai keinginannya.
Dewan yang katanya dibentuk untuk perdamaian Palestina hanya tipu muslihat saja. Palestina saja tidak dilibatkan dalam pertemuan tersebut. Jelas sekali tidak terlihat niat baik untuk Palestina secara nyata. Dewan yang dibentuk semata-mata demi kepentingan Donald Trump semata. Yang lebih menyakitkan lagi bahwa Donald Trump sudah menghayal akan membangun gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen sesuai dengan kehendaknya.
Dengan sengaja dan nyata, Trump sudah menyiapkan dan merancang visi misi yang menargetkan Gaza. Sampai saat ini Gaza masih porak poranda tanpa belas kasihan. Zionis laknatullah dengan beringas dan tiada berperikemanusiaan membantai rakyat Gaza, saudara kita di sana. Sementara pemimpin-pemimpin muslim sibuk bertemu mesra dengan musuh-musuh Islam tanpa ada rasa bersalah.
Seharusnya negara-negara yang ikut bergabung dengan BoP buka mata, buka telinga, dan buka sejarah. Dewan yang diciptakan oleh Trump demi kepentingannya semata hanya memperalat negara-negara yang bergabung untuk memuluskan rencana kejinya. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin yang dibuat Trum atas Gaza
Keikutsertaan negeri-negeri Muslim dalam BoP merupakan pengkhianatan yang nyata terhadap kaum muslimin. Palestina jelas tidak butuh BoP maupun rencana AS. Yang dibutuhkan oleh Palestina adalah pembebasan dari pendudukan Zionis Yahudi. Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis Yahudi hengkang dan angkat kaki dari bumi Gaza tanah Palestina.
Allah Swt. telah menjamin kualitas umat Islam atau kaum Muslim sebagai umat terbaik. Umat Islam mulia dikarenakan memiliki asas atau dasar kehidupan yaitu berupa akidah Islam. Hal ini difirmankan dalam Alquran surah Ali Imron ayat 110 yang berarti:
“kamu adalah uamt terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mecegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Kaum muslim harus mandiri tidak boleh bergantung pada negara adidaya. Kemandirian ini terwujud karena negara mengadopsi sistem yang diperintahkan Allah yakni sistem Islam. Sebaliknya, negara pembebek akan mengikuti dan mengadopsi dan menerapkan ideologo negara adidaya. Sudah jelas negara pembebek akan mengikuti apapun kebijakan, program, bahkan perintah negara adidaya.
AS adalah negara kafir harbi fi’lanyakni negara yang riil memerangi kaum muslim secara fisik. AS juga secara nyata mendukung penajahan Palestina yang dilakukan oleh Zionis. Termasuk genosida di Gaza. Realitas penjajah ini tidak pantas didukung oleh negeri-negri muslim. Haram hukumnya bagi uamt Islam dan negeri-negeri muslim mengikuti orang-orang kafir. Apalagi dalam sebuah perjanjian resmi sebagaimana BoP.
Solusi yang hakiki bagi negeri-negeri berpenduduk muslim adalah dengan bersatu melawan kafir penjajah. Kaum muslim harus bersatu dalam satu pemikiran dan satu tjujuan untuk mewujudkan tegaknya institusi pemersatu umat, yakni Khilafah Islamiah, sebab umat Islam bersaudara dan bagaikan satu tubuh. Allah Swt. berfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersauda, sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (TQS. Al-Hujurat: 10)
Khilafah adalah negera yang mandiri dan berdaulat akan menjaga seluruh tanah milik kaum muslim. Khilafah adalah perisai bagi kaum muslim. Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah dan segera merealisasikannya.
Wallahu a’lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar