Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Perlindungan Bagi Perempuan
Opini

Perlindungan Bagi Perempuan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
25 Jan, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Warjianah
(Muslimah Peduli Perempuan dan Generasi) 

TanahRibathMedia.Com—Kasus pembunuhan di Depok, Jawa Barat, yang pelakunya berinisial AA terhadap pacarnya  yang berinisial KRA, seorang mahasiswi. Pelaku menghabisi korbannya di kontrakannya Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, dengan motif pembunuh yang di latar belakangi cemburu buta kepada korban (18-1-2024).

Ternyata kasus yang sama juga terjadi pada tanggal (10-2-2024), terjadi kasus pembunuhan mahasiswi Elisa Siti Mulyani (21) yang di bunuh oleh mantan pacarnya, Riko Arizka (23) di Pandeglang Banten. Setelah kasus Elisa ini, barulah Komisioner Komnas Perempuan Rainy Hutabarat , memunculkan istilah "Femisida". Kasus pembunuhan pada LS tergolong pasangan intim dengan istilah "intimate partner femicide".

Apa itu Femisida?
 
Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Perempuan (Komnas Perempuan) menjelaskan pengertian Femisida, menurut Sidang Umum Dewan Hak Asasi Manusia ( HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai berikut. Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang di dorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan sehingga boleh berbuat sesuka hati. Adapun penyebab femisida, Komnas Perempuan memaparkan ada banyak faktor penyebab terjadinya femisida antara lain: ketersinggungan maskulinitas, marah karena didesak harus tanggung jawab atas kehamilan, menghindari tanggung jawab materi, kecewa di tolak cinta, cemburu, memaksa pelayanan maupun pemenuhan transaksi seksual, konflik dalam rumah tangga dan tidak mau di cerai,  melakukan perlawanan saat diperkosa dan semisalnya. 

Di Indonesia, kasus pembunuhan telah diatur di dalam pasal 44 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT) dan juga di KUHP  yaitu pasal 338, pasal 339 , pasal 340, pasal 344, pasal 345 , dan pasal 350. Namun motif, modus, dan kekerasan berbasis gender sebelum atau  yang menyertainya tidak menjadi faktor pemberat hukuman. 

Akar Masalah Sesungguhnya

Akar masalah sesungguhnya adalah mencampakkan aturan Allah di dalam kehidupan manusia. Sejatinya hukum buatan manusia tersebut tidak memberikan solusi tuntas. Baik itu bersifat preventif (pencegahan) dan bersifat solutif (efek jera dan penebus dosa). Sehingga pada akhirnya  pelaku  di berikan hukuman yang tidak setimpal. 

Inilah kelemahan dari aturan buatan manusia, yang mana ketika manusia mengatur kehidupannya sendiri pasti tidak akan mendapatkan keadilan. Bukankah kita seorang muslim selayaknya  berhukum dengan aturan Sang Pencipta kita, sebagaimana Allah memerintahkan Rasulullah untuk mencontohkan agar menyelesaikan setiap perkara, mengikuti apa yang Rasulullah putuskan. Sebagaimana firman Allah:

فَلَا  وَرَبِّكَ  لَا  يُؤْمِنُوْنَ  حَتّٰى  يُحَكِّمُوْكَ  فِيْمَا  شَجَرَ  بَيْنَهُمْ  ثُمَّ  لَا  يَجِدُوْا  فِيْۤ  اَنْفُسِهِمْ  حَرَجًا  مِّمَّا  قَضَيْتَ  وَيُسَلِّمُوْا  تَسْلِيْمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65).

Saat ini kaum muslimim belum sepenuhnya kembali kepada aturan Islam, padahal Islam mengatur terkait permasalahan femisida dan kasus pembunuhan serupa.Ketika permasalahan ini di kembalikan ke aturan Islam. Maka ada 3 pilar yang terlibat di dalamnya. 

Pertama, peran Individu yakni
memahamkan kepada individu untuk mempelajari agama Islam secara kafah (menyeluruh), seperti: bagaimana terkait interaksi bergaul dengan lawan jenis dan melarang ikhtilat. Islam mengatur interaksi terhadap lawan jenis terkait beberapa hal yang diperbolehkan bertemu dan bertatap muka, misalnya dalam jual beli, kesehatan, dan pendidikan. 

Kedua, peran masyarakat. Akan ada kontol masyarakat untuk menasihati, sebab terciptanya masyarakat yang bisa memberikan kontrol terhadap individu itu tidak terlepas dari masyarakat dan juga negara. 
Ketika negara mampu mewujudkan aturan Islam, akhirnya masyarakat terwarnai oleh negara dari segi pemikiran, peraturan, dan perasaan yang satu, yakni Islam. 

Ketiga, adanya peran negara. 
Akan sulit, jika negara tidak menerapkan aturan Islam sebagai landasan hukum. Jika Islam hanya diemban individu-individu akan terasa sulit, bahkan bertentangan dengan negara. Sulit juga menciptakan kontrol  masyarakat dalam bentuk peduli terhadap agamanya. 

Maka jalan satu-satunya agar permasalahan saat ini bisa terselesaikan, apabila kita mau mengambil dan menerapkan aturan Sang Pencipta dalam kehidupan kita. 

Wallahu'alam bisawwab
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us