SP
Perjuangan Sesungguhnya Mubaligh dan Santri dalam Pandangan Islam
TanahRibathMedia.Com—Kang Dadang supriana (KDS) selaku Bupati Bandung mengapresiasi BAZNAS yang digelar di kabupaten Bandung pada tanggal 22 Oktober karena sudah berkontribusi dalam pengelolaan ZIS (zakat, infak, dan sedekah). Selain itu, KDS memberikan dorongan kepada seluruh santri agar para santri lebih meningkatkan lagi kualitas diri hingga berani tampil dan juga senantiasa berperan aktif dalam membangun bangsa, sebab beliau berpendapat bahwa santri sangat berpotensi dalam kepemimpinan, baik itu menjadi aparat negara, pengusaha, maupun propesi lainnya yang ikut andil dalam kesejahteraan Indonesia (Gerbangpatriot.com, 22-10-2026)
Mubaligh dan santri memang mempunyai keterikatan yang sangat penting. Oleh sebab itulah mubaligh harus paham dengan makna Hari Santri yang sesungguhnya sehingga ke depannya mubaligh pun tidak salah kaprah dalam mengarahkan santri tentang apa tujuan dan peran santri yang sesungguhnya. Santri harus dipahamkan bahwa Hari Santri bukan sekadar momentum seremonial tahunan saja, melainkan akar dari perjuangan bangsa membebaskan diri dari berbagai penjajahan dengan cetusan gema jihad Hadraatussyaikh Hasyim Asy'ari untuk melawan para penjajah di kala itu.
Santri harus terus dikukuhkan agar senantiasa paham akan identitasnya sebagai kader ulama dan waratsatul anbiya yang peka dan peduli pada negeri dan persoalan umat, hingga senantiasa berada di garda depan untuk membebaskan penjajahan dan kezaliman. Harapan serta seruan KDS memang pantas diapresiasi namun ada fakta yang terjadi di negeri ini pun harus didalami, sebab realitasnya negeri ini masih dalam cengkeraman penjajahan gaya baru. Perang pemikiran dan kebudayaan yang dijalankan imperialis sekuler kapitalisme yang hingga saat ini masih terus mempengaruhi aspek kehidupan umat, bahkan sudah menyerang pesantren sehingga pesantren pun tidak benar-benar aman dari proyek penjajahan tersebut.
Santri harus dipahamkan akan tugasnya sebagai kader ulama, sehingga harus mempunyai keberanian dalam menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Santri harus dipahamkan bahwa Hari Santri harus dimaknai sebagai penguat kesadaran bahwa kondisi saat ini tidak baik-baik saja. Santri tidak boleh merasa puas hanya menjadi penguat negeri, namun juga memastikan bahwa negeri ini akan kuat jika berjalan dengan panduan syari'at Islam kaffah. Wallahu 'alam bissawab.
Nurjanah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar