OPINI
Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Rapuhnya Generasi Muda di Bawah Sistem Sekularisme-Kapitalisme dan Solusi Islam
Oleh: Siti Rofiqoh
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan interaksi dengan orang lain. Seiring berkembangnya zaman, segala sesuatu menjadi semakin mudah dilakukan. Pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin padat dan kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat orang dapat berinteraksi tanpa batas jarak. Namun, hidup di tengah dunia digital yang tidak pernah lepas dari notifikasi dan keramaian media sosial tidak lantas membuat orang merasa bahagia. Justru sebaliknya, yang dirasakan adalah kesepian di tengah keramaian.
Begitu juga yang dirasakan oleh generasi hari ini, dunia mereka berporos pada gawai yang mereka genggam. Di tengah tongkrongan yang ramai, kelas yang penuh, sampai di ribuan kolom komentar yang memenuhi sosial media, rasa sepi itu tetap ada. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Di tengah zaman yang serba terkoneksi, justru banyak yang merasa sendiri. Sejauh apa sekularisme mengambil peran di dalamnya?
Beberapa kasus yang terjadi di antaranya, seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya berusia 19 tahun itu diduga mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 6 di kampus. Meskipun belum diketahui penyebabnya, korban masih dalam perawatan intensif di rumah sakit dan menjalani skrining terkait kesehatan mental (kompas.id, 10-9-2026).
Peristiwa ini bisa menjadi bukti bahwa inilah buah dari paham sekularisme yang dipakai hari ini. Di mana sekularisme mencabut akidah dari kehidupan sehingga menjadikan kita generasi yang kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Sebagai seorang muslim, kita jelas tahu bahwa tanpa iman sebagai benteng, maka ketika kita menghadapi kesulitan hidup akan terasa berat dan akan berujung pada keputus-asaan.
Kasus lainnya terjadi pada seorang lelaki berusia 30 tahun yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Setelah ditelusuri, selama hidupnya Ia memang dikenal introvert dan lebih banyak mencurahkan perasaannya di media sosial. Bahkan, terkait perencanaan bunuh diri juga ia sampaikan di media sosialnya, sekaligus mengunggah bukti transaksi senilai 40 juta rupiah yang ia berikan untuk komunitas kesehatan mental serta rumah singgah kucing dan anjing liar (kompas.id, 10-9-2026).
Masih ada ribuan kasus yang hampir serupa. Hari ini kita hidup dalam sistem kapitalisme, sistem yang melahirkan masyarakat yang individualistis, di mana setiap orang berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat, ditambah tantangan dan beban besar yang didapatkan dari media sosial. Sehingga, meskipun berada di tengah keramaian media sosial dan masyarakat kota, kesepian tetap merajalela, bahkan di antara mereka yang secara materi berkecukupan. Seperti kasus pria berusia 30 tahun tadi.
Menurut data hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id, klien didominasi kelompok usia 21 sampai 30 tahun dengan proporsi 54,08 persen. Hal ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda terutama generasi z dan Milenial. Fenomena ini tidak lepas dari tingginya tekanan transisi kehidupan, masalah keluarga, persoalan ekonomi, dan rasa sendiri di tengah dunia digital yang serba terkoneksi namun minim filtrasi dan empati. Semua ini adalah hasil dari negara yang menerapkan sistem sekularisme-kapitalisme. Negara inilah yang membentuk individu yang rapuh dan masyarakat yang individualistis melalui penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalistik.
Berbeda dengan Islam yang membangun aqidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Islam meyakini bahwa setiap kesulitan adalah bentuk ujian dari Allah dan bunuh diri adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Allah Swt. berfirman:
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (TQS An-Nisa :29).
Tentu, hal ini menjadi perisai terkuat ketika seorang muslim dalam keputusasaan. Islam menjalin hubungan antar-masyarakat berdasarkan ikatan yang kokoh yakni akidah. Sebagaimana Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga tidak akan ada orang yang merasa sendiri dan kesepian dalam menghadapi masalah hidupnya.
Selain dari masyarakat, negara Islam yakni Khilafah yang menerapkan sistem Islam secara Kaffah, dengan sistem pendidikan yang melahirkan generasi yang kokoh dan saling peduli terhadap masyarakat, bukan generasi Yang rapuh dan kesepian.
Begitu juga negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang akan menjamin seluruh kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya, sehingga tidak akan ada lagi orang yang mengalami krisis kesehatan mental akibat tekanan ekonomi, seperti yang banyak dialami oleh generasi muda hari ini. Karena kebutuhan pokok, kesehatan, dan pendidikan dijamin sepenuhnya oleh negara, bukan diserahkan pada mekanisme pasar yang individualistis.
Wallahu'alam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar