OPINI
Migrasi Sukarela: Strategi Pengusiran Warga Gaza di Tengah Keputusasaan Zionis
Oleh: Dewi Puspita Sari, MT
(Pengamat Kebijakan Publik)
TPelanggaran kembali dilakukan Israel, menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir kembali menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Ia juga menyerukan pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut. Ia berencana mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam waktu tujuh tahun dengan dalih “migrasi sukarela”. Rencana tersebut sejalan dengan keputusan Israel. Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengungkap bahwa pemerintahnya telah menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza, tetapi masih menunggu persetujuan AS sebagai sekutu terbesarnya. Rencana yang diberi nama “Disengagement 710” itu dipaparkan Ben-Gvir dalam konferensi pers 3 september setelah surat kabar Yedioth Ahronoth menerbitkan rincian mengenai inisiatif tersebut, mencakup pembentukan kementerian khusus yang bertugas menjalankan program serta menyediakan “paket penyerapan” bagi warga Palestina yang dipindahkan ke negara penerima. Terdapat sejumlah negara yang siap menerima warga Palestina dan sejumlah besar orang ingin pindah, klaim Ben-Gvir.
Sebaliknya, Yedioth Ahronoth melaporkan, hingga kini tidak ada negara yang diketahui telah menyatakan kesediaan menerima warga Palestina dari Gaza dalam jumlah besar. Rencana tersebut menargetkan 250.000 warga Palestina meninggalkan Gaza pada tahun pertama, kemudian meningkat menjadi 1,11 juta orang dalam tiga tahun dan sekitar 1,86 juta orang dalam tujuh tahun (metrotv, 04-09-2026, 09.50 WIB).
Tawaran Manis Zionis Syarat Tipu Daya
Setelah berbagai eskalasi, perang, genosida, gencatan senjata bahkan pelucutan senjata Mujahid, tak pernah berhasil melumpuhkan perlawanan rakyat Palestina. Zionis terus mencari cara untuk menguasai wilayah Palestina, karena bagi mereka keberlangsungan entitasnya ditentukan oleh dominasinya di kota suci tiga agama tersebut. Mereka telah terusir dari belahan bumi manapun, bahkan sejak dulu. Mereka harus berjuang merebut Palestina bagaimanapun caranya. Ditengah keputusasaan menghadapi tentara Allah yang tak pernah habis, muncul siasat licik menyingkirkan rakyat Palestina, yakni migrasi sukarela dengan iming-iming status hukum, dokumen, visa, biaya perjalanan, hingga tempat tinggal awal.
Sayangnya, meski dalam kampanye disampaikan anggaran pembiayaan migrasi ini mencapai USD 16,6 milyar, mencakup biaya untuk negara tujuan migrasi, namun belum ada negara yang bersedia. Dunia paham betul bahwa rakyat Palestina akan tetap memilih Palestina sebagai tanah kelahirannya bahkan syahidnya. Seharusnya negeri-negeri Muslim membantu saudaranya memerangi Zionis untuk mengusir mereka dari kota suci para Nabi tersebut.
Nihilnya pembelaan dunia terhadap Palestina merupakan konsekuensi logis penerapan sistem negara-bangsa (nation-state). Hukum internasional modern produk negara-negara imperialis Barat justru melanggengkan penjajahan melalui proyek kejinya "migrasi sukarela" untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah kelahirannya. Ketergantungan Zionis pada persetujuan AS menunjukkan bahwa Israel merupakan proyek kolonial yang disponsori adidaya, bukan entitas berdaulat independent.
Kebutuhan Mendesak Terhadap Khilafah Sebagai Kekuatan Umat
Khilafah satu-satunya adidaya dunia yang pernah menyingkirkan kekejaman Romawi dan Persia kala itu. Saat ini, kebengisan Zionis dan sekutunya semakin nampak, seharusnya menyadarkan kita bahwa keadilan hanya ada saat Khilafah tegak kembali.
Solusi fundamental atas Palestina adalah kembalinya Khilafah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum Muslimin.
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai.” (TQS. An-nur:55)
Jihad sebagai strategi politik luar negeri Khilafah untuk membebaskan tanah yang dijajah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, dilakukan oleh negara dengan tentara terbaik Khilafah. Sebagai adidaya dunia, Khilafah akan memutus total ketergantungan ekonomi-politik dengan negara-negara yang mensponsori Zionis dan memanfaatkan segala sumber daya sebagai basis kekuatan militer-ekonomi independen untuk mendukung pembebasan Palestina.
Semua itu dapat terwujud, saat umat sadar untuk mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah sesuai metode perjuangan Rasulullah ﷺ.
"Seorang berjaga di daerah-daerah perbatasan kaum muslimin selama satu hari karena Allah adalah lebih baik baginya daripada dunia dan semua yang ada diatas dunia ini..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidakkah panggilan Allah terlalu indah untuk ditinggalkan?
Wallahu a'lam.
Via
OPINI
Posting Komentar