OPINI
Karhutla: Antara Cuaca, Korporasi, dan Kebodohan Kolektif
Oleh: Misriyatik
(Aktivis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Kebakaran hutan dan lahan terus berulang, bahkan menjadi bencana tahunan (Mongabay,18-8-2026).
Karhutla terjadi akibat adanya pembukaan lahan secara massif. Sementara respon pemerintah sebatas pemadam di hilir tanpa menyentuh pemicu utama.
Setiap tahun di bulan yang sama cerita yang sama selalu terulang. Langit Kalimantan dan Sumatera kembali kelabu. Penjualan masker tiba-tiba laku keras, stok di apotek pun menipis, warga batuk-batuk, sekolah diliburkan. Pemerintah datang dengan helikopter pemadam dan himbauan untuk memakai masker dan tetap di dalam rumah dan dihimbau agar warga mengurangi aktivitas di luar rumah mereka. Akan tetapi kenyataan di lapangan, api tidak pernah benar-benar padam, sebab yang hilang hanya asapnya akan tetapi yang menjadi pemicu terus dipertahankan hidup. Pembukaan lahan secara massif demi keuntungan korporasi.
Karhutla adalah Produk Kapitalisme
Karhutla tidak datang begitu saja, ia juga bukan akibat cuaca ekstrem. Karhutla lahir dari logika kapitalisme yang menuhankan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya. Hutan dan lahan gambut diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pembakaran menjadi cara termurah dan tercepat yang mereka tempuh. Korporasi mendapatkan keuntungan miliaran. Negara mendapatkan pajak yang tinggi, namun rakyat dapat apa?
Rakyat hanya mendapatkan asapnya. Ekosistem dirusak, satwa kehilangan tempat tinggal, dan atmosfir bumi dipenuhi karbon. Semua ini hanya untuk kepentingan korporasi. Keselamatan makhluk hidup tidak menjadi prioritas, yang dipentingkan hanyalah keuntungan. Begitulah wajah dari sistem kapitalisme, mereka menyerahkan sumber daya alam milik umum kepada segelintir pemilik modal.
Perempuan dan Anak: Korban Paling Utama
Saat kebakaran terjadi, asapnya menyebar. Negara lalai. Beban krisis dilimpahkan ke rumah-rumah, siapa yang paling terdampak? Perempuan. Mereka harus bolak-balik ke puskesmas untuk mengantarkan anaknya yang ISPA. Peran mereka menjadi ganda, mengurusi rumah di tengah polusi dan menjaga anak agar tidak keluar rumah. Kebutuhan ekonomi mereka juga bertambah karena harus membeli masker dan obat-obatan. Sedangkan jaminan kesehatan gratis yang berkualitas, pasokan air bersih, dan perlindungan nyata dari negara sangat terbatas.
Anak-anak, balita, ibu hamil, dan lansia, serta penderita penyakit kronis saluran pernapasan dan jantung adalah kelompok paling rentan terhadap ISPA, bahkan Dokter Paru pun sudah memperingatkan akan hal ini. Namun respon negara hanya sebatas himbauan belaka. Sementara kesehatan paru-paru generasi terus tergadaikan setiap tahun. Karhutla bukan bencana alam, ini bencana sistemik. Karhutla adalah cermin, di dalamnya terdapat wajah kemiskinan, keserakahan, dan kelalaian. Negara tidak kekurangan aturan, ia hanya kekurangan keberanian untuk menegakkan hukum. Jangan biarkan anak cucu kita mewarisi langit kelabu penuh karbon!
Solusi Tuntas dengan Islam
Jauh berbeda dengan sistem yang digunakan di negara kita. Islam menjadikan alam sebagai amanah. Rasulullah saw. bersabda:
"Janganlah engkau saling membahayakan dan janganlah saling merugikan." (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
Dalam pandangan Islam air dan hutan adalah sumber daya alam milik umum sehingga haram diberikan kepada perorangan maupun korporasi. Negara yang harus mengelola sumber daya alam milik umum ini dan keuntungannya digunakan untuk kemaslahatan umat.Negara adalah junnah, pelindung, sehingga wajib memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Saat bencana datang, negara hadir dengan pengaman berupa layanan kesehatan gratis dan berkualitas, menyediakan pasokan air bersih yang berlimpah, dan segala bantuan langsung lainnya yang dibutuhkan saat itu.
Selain itu, negara tidak lemah untuk menegakkan hukum, negara akan memberikan sanksi tegas atas perusakan lingkungan dan pelaku pembakaran hutan, baik yang mempunya ide maupun si pelaku langsung di lapangan. Semua pelaku wajib mendapatkan sanksi yang akan memberikan efek jera. Izin-izin terhadap perusahaan atau perorangan yang menyebabkan kerusakan ekosistem akan dihapuskan. Tidak ada kata kompromi untuk investasi yang merusak alam. Islam tidak hanya menambal di hilir, namun memutuskan mata rantai masalah dari hulu.
Penutup: Hentikan Normalisasi Asap
Sudah waktunya untuk kita membuka mata dan telinga. Kebakaran hutan bukan bencana alam karena cuaca. Kebakaran hutan adalah ulah tangan manusia. Asap bukan 'musim'. Sudah cukup kita dan anak-anak tumbuh dengan paru-paru yang selalu diuji dengan polusi setiap tahun.
Selama sistem masih memberikan ruang kepada perusakan lingkungan atas nama investasi, maka langit kita akan tetap dipenuhi asap dan karbon.
Kita membutuhkan negara yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pengurus dan pelindung umat. Negara yang berani menindak tegas pelaku kerusakan alam dan lingkungan, menghentikan izin perusahaan pelaku perusakan lingkungan, dan menjamin kesehatan rakyatnya. Menjaga keberlangsungan hidup makhluk agar tidak punah. Karena udara yang bersih adalah hak semua. Maka hak ini harus kita perjuangkan, kapankah kita sadari ini? Cobalah untuk lebih dalam lagi dalam berfikir dan menilai permasalahan dalam negara!
Wallahu a'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar