OPINI
Krisis Anak Didik, Sekolah Swasta Lebih Dipilih Ketimbang Sekolah Negeri
Oleh: Yuke Octavianty
(Forum Literasi Muslimah Bogor)
TanahRibathMedia.Com—Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) dilaporkan mengalami penurunan jumlah pendaftar. Ada beberapa sekolah yang dilaporkan hanya mendapatkan 5 murid atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan siswa sama sekali. Keadaan ini ditemukan di sejumlah kota seperti Semarang, Solo, Lampung, Blitar, Tulungagung, Karanganyar hingga Ponorogo (bbcnews.com, 20-7-2026).
Swasta Lebih Dipilih
Minat orang tua murid terhadap sekolah negeri semakin turun dari tahun ke tahun. Kebijakan zonasi yang masih diterapkan berpengaruh terhadap penerimaan murid baru. Sekolah swasta pun diyakini lebih menjanjikan dalam pendidikan karakter dan pemahaman agama (bbcnews.com, 19-7-2026). Mengingat pergaulan dan fakta kehidupan saat ini sangat memprihatinkan. Pendidikan karakter dan pemahaman agama menjadi poin penting dalam membekali pendidikan generasi. Kesadaran ini pula yang membuka kesadaran orang tua agar anaknya terjaga dari segala bentuk kebebasan yang makin vulgar dipertontonkan.
Tak hanya itu, sekolah swasta kebanyakan memiliki program full day school yang membantu menjaga anak saat orang tua bekerja. Sekolah swasta juga lebih unggul dalam hal fasilitas, media pembelajaran dengan kualitas yang lebih mumpuni ketimbang sekolah negeri. Untuk mengatasi masalah kekurangan rombongan belajar (rombel) di beberapa sekolah yang minim pendaftar, pemerintah menyarankan solusi regrouping sekolah agar pembelajaran dapat berjalan efektif. Namun sayang, solusi ini sulit direalisasikan karena jarak antara sekolah dengan rumah menjadi lebih jauh.
Tentu saja, fenomena ini menjadi dilema bagi sebagian besar orang tua. Sekolah swasta dengan sejumlah keunggulannya menawarkan harga yang jauh lebih mahal daripada sekolah negeri. Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit seperti saat ini, orang tua menjadi kesulitan. Di satu sisi mengharapkan sekolah murah, namun di sisi lain, sekolah negeri tidak mampu memberikan kualitas sesuai harapan. Konsep bisnis di sekolah swasta menjadi satu fokus yang sulit ditinggalkan. Sekolah swasta dengan harga mahal berani memberikan kualitas dengan fasilitas yang unggul. Hal ini menandakan bahwa negara tidak mampu optimal dalam memberikan layanan pendidikan. Terlebih saat ini, ketika anggaran untuk sektor pendidikan terus dipangkas demi program unggulan lain yang diklaim mampu memperbaiki keadaan generasi. Padahal faktanya jauh panggang dari api.
Kegagalan dalam setiap kebijakan pemerintah terus berulang hingga berujung pada hidup yang menyulitkan. Termasuk maslalah kesejahteraan dan keamanan yang sulit diraih. Hingga akhirnya pasangan muda kebanyakan memutuskan untuk membatasi jumlah keturunan, bahkan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Perubahan kurikulum pendidikan juga menyumbang sebab karut marutnya masalah pendidikan saat ini. Kurikulum yang ada jauh dari pembinaan karakter dan pemahaman agama. Alhasil, anak didik pun tetap dalam kondisi yang buruk dan tidak sesuai dengan tujuan umum pembelajaran. Hal ini juga menjadikan orang tua semakin kebingungan mencari sekolah yang baik dan sesuai harapan.
Inilah rentetan dampak yang dilahirkan dari penerapan sistem kapitalisme sekuleristik. Sistem yang mengedepankan nilai materi demi manfaat duniawi. Nilai dan aturan agama dilalaikan dalam pengurusan maslahat rakyat. Akhirnya efek domino terasa di berbagai sektor. Termasuk pendidikan.
Pendidikan dalam Islam
Islam menetapkan pendidikan sebagai kebutuhan utama setiap individu yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Dalam sistem Islam, negara bukanlah regulator, melainkan sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) yang bertanggung jawab mengurusi seluruh urusan rakyat. Pelayanan terbaik demi kemaslahatan rakyat menjadi tujuan utama negara.
Rasulullah saw. bersabda, "Imam adalah ra'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari).
Hadis tersebut menjadi dasar bahwa negara wajib menjamin setiap rakyat memperoleh hak-haknya, termasuk hak atas pendidikan yang berkualitas.
Konsep tangguh ini hanya dapat diwujudkan secara sempurna dalam penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah institusi khas yang bersandar pada hukum syariat Islam. Dalam konsep tersebut, negara mampu optimal menempatkan pendidikan sebagai pondasi pembangun peradaban, sehingga seluruh kebijakan yang diambil diarahkan untuk mencerdaskan umat dan membentuk generasi yang unggul.
Tidak ada lagi diskriminasi sekolah negeri atau sekolah swasta, karena negara memiliki kebijakan dalam melayani kebutuhan pendidikan rakyat, terlebih pendidikan dasar yang menjadi kekuatan utama. Negara juga menetapkan kurikulum berbasis syakhsiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam) dengan kurikulum cerdas yang mampu mendukung pembelajaran. Ditambah fasilitas pendukung pembelajaran yang ideal untuk menguatkan motivasi belajar generasi. Sehingga tidak ada lagi celah swasta dalam berbisnis di bidang pendidikan. Dengan demikian, pendidikan akan melahirkan generasi yang bertakwa, berilmu, amanah, serta memiliki kapasitas kepemimpinan umtuk membangun peradaban.
Negara juga menetapkan anggaran pendidikan secara optimal agar hak setiap individu dapat terpenuhi, mulai dari jenjang dasar hingga pendidikan tinggi. Pendidikan diselenggarakan secara merata dengan biaya yang murah, bahkan gratis, sehingga setiap rakyat memiliki kesempatan merata dalam mengakses layanan pemdidikan tanpa terhalang kemampuan ekonomi.
Betapa mulianya tujuan pendidikan dalam Islam. Pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan melahirkan individu agar menjadi hamba Allah Swt. yang taat sekaligus menjadi pengemban risalah yang mampu menghadirkan kemuliaan Islam di tengah kehidupan. Islam-lah satu-satunya jalan kemuliaan. Tujuannya mampu terwujud sempurna saat syariatNya diterapkan sebagai asas utama meraih kecerdasan hakiki.
Wallahu a'lam bisshawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar