OPINI
Wibawa Guru Direndahkan vs Profil Pelajar Pancasila
Oleh: Dwi R Djohan
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—SMAN 1 Purwakarta belakangan ini menarik perhatian khayalak ramai. Bukan karena prestasi siswa didiknya atau apresiasi terhadap sekolahnya, tetapi terkenal karena video yang viral di media sosial yang ternyata mencoreng nama baik dunia pendidikan. Video tersebut adalah video yang menanyangkan sikap yang tidak pantas diberikan peserta didik kepada gurunya. Dalam video tersebut, para siswa terekam mengejek sang guru hingga memberikan gesture acungan jari tengah di balik punggungnya. Sangat tidak beretika dan mencerminkan krisis penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.
Adapun kronologi kejadiannya seperti yang dilansir oleh detik.com (20-4-2026) dari Purwanto, Kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, bahwa kejadian itu berawal dari pembagian kelompok presentasi mengenai pengolahan makanan pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) oleh Ibu Atun selaku guru dari mata pelajaran itu di hari Kamis (16-4-2026) di kelas XI IPS.
Semua siswa telah mendapatkan urutan, termasuk kelompok siswa berjumlah 9 orang yang melakukan perbuatan tidak pantas ini dan urutan mereka adalah nomor dua, tetapi saat kelompok pertama selesai presentasi, ternyata kelompok nomor dua diganti menjadi nomor terakhir. Proses pemunduran waktu presentasi pun tidak ada penolakan hingga waktu pelajaran usai, bahkan sebelum Ibu Atun keluar kelas, para siswa meminta foto bersama karena telah berhasil menyelesaikan tugas presentasi. Nah, pada saat Ibu Atun berbalik badan dan berjalan meninggalkan kelas, para siswa yang tergabung dalam kelompok dua melakukan tindakan tidak pantas itu dan dengan bangga merekamnya dan viral di akun media sosial pribadi siswa.
Setelah viralnya video ini, pihak sekolah pun mengambil tindakan dengan menjatuhkan skorsing selama 19 hari dan menjalani pembinaan selama hukuman tersebut di rumah (detik.com 18-4-2026). Namun, menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sanksi dari sekolah belum menjadi solusi terbaik untuk membentuk karakter siswa. Dedi merasa perlu ada hukuman fisik yang mendidik dengan berbasis aktivitas sosial dan tanggung jawab seperti membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet.
Hukuman fisik ini bisa dijalankan selama 1-3 bulan tergantung perkembangan siswa itu sendiri dengan harapan lebih efektif menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat sehingga tercapai tujuan utama pendidikan yaitu membentuk karakter, bukan hanya efek jera.
Bagi Ibu Atun sendiri, perilaku peserta didiknya ini telah beliau maafkan bahkan sebelum mereka meminta maaf (Bandung.kompas.com, 20-4-2026). Beliau juga tidak membawa masalah ini ke ranah hukum mengingat 9 siswanya telah menangisi kesalahannya dan menyesalinya. Hati Ibu Atun tersentuh dan menganggap itu adalah pembinaan karakter yang sedang berjalan dan itu semua harus didampingi dengan kesabaran.
Jika kita membahas pendidikan, maka tidak akan lepas dari sosok yang bernama guru. Guru adalah orang yang berada di garis terdepan dalam dunia pendidikan dalam hal mendidik dan mengajar peserta didik. Guru juga bisa dikatakan sebagai pendidik professional yang berperan sebagai pahlawan pendidik, fasilitator yang mengajar, membimbing, membentuk karakter mulia peserta didik dan juga motivator. Oleh karena itu, guru harus adaptif terhadap teknologi dan kreatif dalam menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan. Bahkan ada yang mengartikan guru adalah sosok yang digugu dan ditiru karena memiliki kestabilan emosi, arif, wibawa serta penuh kasih sayang.
Adanya kejadian pelecehan guru itu pertanda wibawa guru telah direndahkan. Hal ini juga mencerminkan krisis moral peserta didik yang mengabaikan adab kepada guru. Meskipun terkadang dengan dalih demi konten, hal ini tetap tidak bisa dibenarkan. Siswa yang lebih mementingkan viralitas atau “biar keren” di mata jagad maya daripada menjaga martabat guru. Sehingga timbul pertanyaan, mengapa siswa begitu berani melakukan itu? Apakah mereka tidak takut dengan sanksi yang akan didapat? Ataukah sanksi dari pihak sekolah terlalu lemah dengan dalih kurikulum merdeka?
Sejenak mari kita tengok P5 yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Proyek tentang pembelajaran kokurikuler berbasis projek dalam Kurikulum Merdeka untuk menguatkan karakter dan kompetensi siswa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Proyek ini diharapkan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki karakter Pancasila yang kuat. Jika melihat yang terjadi di SMAN 1 Purwakarta, jelas ini menjadi sebuah tamparan keras bagi proyek-proyek semacam ini. Proyek yang sekedar formalitas di atas kertas. Lantas, harus bagaimana mencetak generasi emas itu?
Hanya satu jawabannya, yaitu mewujudkan sebuah kurikulum pendidikan yang berlandaskan akidah Islam di mana menjadikan Allah sebagai penilai utama atas setiap amal yang dilakukan. Selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga akan berupaya sekuat tenaga agar setiap amalnya bernilai pahala. Akibatnya, generasi akan memiliki Kepribadian Islamiyah di mana pola pikir dan pola sikapnya sesuai syariat. Ini hanya terwujud jika sistem negaranya adalah Islam.
Kalaupun ada pelanggaran, maka negara akan memberikan sanksi yang berfungsi sebagai penebus dosa atas pelakunya dan pencegah agar tidak ada peluang bagi orang lain untuk melakukan pelanggaran yang sama. Sanksi yang diberikan pun tetap, tidak berubah seperti hukum sekarang yang bisa “dibeli”, karena perintah dan sanksi semuanya berasal dari Allah. Sehingga tidak memungkiri, jika dalam pendidikan Islam, wibawa guru akan terjaga dan dimuliakan di mata murid dan masyarakat.
Wallahu a’lam
Via
OPINI
Posting Komentar