OPINI
Urbanisasi yang Berkembang menjadi Tradisi
Oleh: Irohima
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Hari raya Idulfitri baru saja usai, kita pun telah kembali pada aktivitas semula setelah libur panjang. Yang ‘datang’ kembali ‘pulang’ dengan membawa kehangatan dan kebahagiaan akan indahnya pertemuan setelah lama terpisahkan. Yang ‘tinggal’ akan kembali merindukan kebersamaan saat lebaran, namun ada hal yang kadang luput kita perhatikan yakni tak jarang yang ‘tinggal’ ikut membersamai yang pulang, sebuah fenomena kerap terjadi setelah hari raya Idulfitri, dan yang kita kenal dengan nama fenomena urbanisasi yang kini seolah menjadi tradisi.
Angka arus balik kembali diprediksi jauh lebih besar dari angka mudik pada momen lebaran tahun ini. Berbagai kendala dan kesulitan hidup di tempat asal membuat masyarakat banyak yang tergiur dan tertarik mengadu nasib di kota-kota besar dengan segala gemerlap dan jutaan harapan yang ditawarkan. Jakarta adalah salah satu kota yang masih menjadi tujuan favorit urbanisasi setelah lebaran 2026. Arus pendatang di Jakarta semakin meningkat setiap tahunnya. Meski di Jakarta banyak terdapat tantangan berat, seperti padatnya penduduk di sana serta persaingan yang semakin ketat, namun daya tarik ekonomi, kelengkapan infrastruktur, dan status sebagai pusat bisnis yang dimiliki Jakarta, menjadikan kota ini sebagai magnet kuat penarik pendatang untuk mengubah taraf hidup yang lebih baik (Koran Jakarta, 27-03-2026).
Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya urbanisasi, salah satunya faktor ekonomi, yakni sulit mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang cukup di daerah asal, selain itu akses pendidikan, layanan Kesehatan, dan fasilitas publik yang minim turut mendorong urbanisasi makin marak.
Fenomena urbanisasi yang selalu muncul saat momen lebaran, menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi antara daerah perkotaan dan pedesaan nyata adanya. Adanya kesenjangan ekonomi yang cukup besar membuat orang-orang desa berbondong-bondong pindah ke kota. Hal ini tentu akan berdampak pada kondisi kota dan pedesaan itu sendiri. Sebuah desa akan kehilangan sumber daya manusia yang muda dan di kota akan terjadi lonjakan demografi akibat banyaknya penduduk yang masuk.
Fenomena urbanisasi yang terjadi tak lepas dari peran sistem Kapitalisme yang memiliki andil besar dalam menciptakan kesenjangan hidup dalam aspek ekonomi antara perkotaan dan pedesaan. Dalam kapitalisme, pembangunan dan investasi yang lebih mengutamakan daerah perkotaan menyebabkan peluang ekonomi dan infrastruktur lebih banyak berkembang di kota, hal inilah yang menyebabkan akses ke modal, teknologi, dan pasar sangat terbatas di desa, selain itu daerah pedesaan sering kali hanya dijadikan sebagai sumber daya alam dan sumber perekrutan tenaga kerja yang murah untuk kota.
Alokasi anggaran pembangunan yang bersifat Jakarta sentris dan kota sentris membuat desa terabaikan karena lebih memprioritaskan daerah perkotaan. Walaupun terkadang terdapat kebijakan seperti program ekonomi untuk desa semisal kopdes (Koperasi Desa), bumdes (Badan Usaha Milik Desa ), dan yang lainnya, tak lain hanya sebuah pencitraan, dan tidak benar-benar dilakukan untuk memajukan desa. Terbukti dari kondisi desa yang tidak mengalami perubahan berarti dan urbanisasi yang kian menjadi. Berbagai kebijakan program ekonomi untuk desa justru kerap menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak.
Dalam Islam, kesenjangan ekonomi adalah hal yang tidak akan pernah dibiarkan terjadi, karena politik ekonomi Islam akan mewujudkan pembangunan yang merata di daerah kota maupun desa. Adanya kesenjangan ekonomi adalah wujud gagalnya negara dalam meriayah rakyat, dan negara Islam tidak seperti negara dalam sistem kapitalisme yang cenderung abai akan urusan rakyatnya. Negara dalam Islam akan menjamin pemenuhan kebutuhan individu per individu, di mana pun ada manusia, maka negara akan melakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhan rakyatnya.
Daerah pedesaan dalam negara Islam tidak akan dijadikan hanya sebagai sumber daya saja, justru sektor pertanian yang banyak terdapat di desa akan dikelola dengan sangat baik sehingga menjadi sektor unggulan yang akan mampu memajukan daerah pedesaan dan menyejahterakan masyarakatnya. Khalifah selaku kepala negara dalam Islam, akan melakukan pengawasan ketat, dan inspeksi secara keseluruhan sampai ke pelosok daerah hingga segala informasi terkait kondisi rakyat dan apa saja kebutuhan rakyat akan bisa diketahui dengan akurat.
Kesenjangan ekonomi tak akan terjadi jika saja kita menerapkan solusi tepat dan muhasabah diri serta menyadari bahwa hanya dengan menerapkan sistem Islam saja kita tidak perlu berurbanisasi hanya untuk meraih kebutuhan duniawi.
Wallahualam bish shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar