Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Perang AS-Iran: Mengajarkan Pentingnya Persatuan Umat di Bawah Naungan Khilafah
OPINI

Perang AS-Iran: Mengajarkan Pentingnya Persatuan Umat di Bawah Naungan Khilafah

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
24 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Sinta Lestari 
(Pegiat Literasi dan Aktivis Dakwah)


TanahRibathMedia.Com—Sejak Februari 2026, Perang AS Israel-Iran menggemparkan Timur Tengah. Hanya dalam waktu beberapa pekan saja, perang ini mampu mengoncang perekonomian dunia, terlebih setelah selat Hormuz ditutup oleh pihak pemerintah Iran. Harga minyak pun melonjak bahkan di Indonesia harga plastik naik hingga 40%. Pengaruh strategi politik Iran mengkonfirmasi bahwa Iran tak mudah dikalahkan. Iran bermain cantik dengan kebijakan yang mematikan. Sesekali ancaman dari AS dibalas dengan rudal-rudal untuk membungkam tingkah penjajah yang berdiri sombong seolah menjadi "Polisi Dunia" yang sulit dihentikan.

Kata "Polisi Dunia" ternyata tak sehebat namanya. Begitu juga sebutan negara adidaya tak sekuat hegemoninya. Terbukti para pemimpin Eropa menunjukkan sikap tegas menolak ajakan Trump untuk bergabung melawan Iran. Mereka tidak mau terlibat langsung dengan konflik yang memang diciptakan sendiri oleh AS. Mereka paham perang ini adalah perang demi kepentingan AS semata. Bahkan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan bahwa konflik tersebut bukanlah urusan mereka (detikNews, 17-3-2026).

Bukan hanya Eropa, namun dari rakyat AS sendiri mereka menolak langkah politik Presiden Trump yang dinilai otoriter. Aksi protes "No Kings" menggerakkan gelombang protes terbesar di AS hingga diikuti kurang lebih 8 juta orang. Sebaliknya, di saat Eropa menolak terlibat, mirisnya, justru dukungan diberikan oleh negeri-negeri muslim. AS datang mengemis dukungan ke negeri-negeri muslim. Melalui program AS, BoP, diplomasi dan perundingan. Bahkan menjalin aliansi pangkalan militer dan hubungan diplomatik lainnya seperti negara-negara Teluk, Qatar, UEA, Arab Saudi, Turki, Bahrain, Kuwait dan beberapa negara Asia seperti Indonesia.

Klaim Kemenangan dan 10 Poin Kesepakatan 

Presiden AS Donald Trump menyatakan kemenangannya atas Iran, setelah terjadi  kesepakatan gencatan senjata Washington dan Teheran selama dua pekan. Tegasnya, Trump mengklaim kemenangan atas Uranium yang diperkaya Iran akan ditangani sepenuhnya berdasarkan kesepakatan tersebut (Kompas.com, 8-4-2026).

Di sisi lain, ketika kondisi AS menegang dan kelelahan menghadapi tekanan geopolitik, muncullah "inisiatif damai" dari para pemimpin negeri-negeri muslim. Pakistan hadir sebagai mediator perundingan. Sayangnya, perundingan ini sejatinya bukan untuk membela kepentingan umat, namun kepentingan penjajah. Mereka menawarkan perdamaian antar kubu demi upaya menjaga stabilitas ekonomi mereka. Dilansir dari  CNN dan Al Jazeera berdasarkan laporan media pemerintah Iran (8-4-2026), Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim kemenangan karena memaksa AS untuk menerima rencana 10 pointnya (detikNews, 8-4-2026).

Point kesepakatan tersebut di antaranya: kendali Selat Hormuz atas Iran, penarikan pasukan AS di semua pangkalan di timur tengah, termasuk mengakhiri perang melawan semua komponen poros perlawanan, membebaskan embargo Iran, kompensasi kerugian Iran atas kerusakan pasca perang dan beberapa poin lainnya yang mendukung perdamaian. 

Meski kesepakatan ini tak menyentuh Gaza secara permanen namun perang ini telah membuat AS mengalami kebangkrutan hebat hingga tercatat hutang AS mencapai 3.9 Triliun dolar. Jelas AS sedang dalam kondisi lemah. Namun AS tak mudah menyerah, AS selalu bermain dengan kekuatan kebijakan seperti intervensi, sanksi, bahkan hak veto yang disalahgunakan, bukan untuk perdamaian melainkan untuk sebuah potensi perpecahan dan alat kendali kepentingan.

Jelas tindakan yang diambil oleh negeri-negeri muslim adalah sebuah pengkhianatan terhadap Iran, perjuangan Palestina bahkan umat Islam seluruh dunia. Seharusnya mereka berdiri bersama umat bersatu mengakhiri eksistensi penjajahan. Bukan justru bermesraan dengan kaum kafir penjajah. Begitulah tipu muslihat kafir penjajah,  polanya sama, memecah belah lalu kuasai. Mereka itu adalah tentara salib modern yang datang dengan agresif dan brutal.

AS Tak Senyaring Narasinya, Tak Sekuat Militernya

Faktanya, apa yang dunia pikir bahwa AS adalah negara yang kuat namun AS justru kewalahan menghadapi serangan dari Iran. Iran telah  membuktikan keberanian untuk melawan negara adikuasa juga telah mematahkan pemikiran narasi tentang kekuatan negara Adidaya. Ternyata tak senyaring narasi muslihatnya dan tak sekuat militernya.

Tanpa dukungan dari negara sekutu, AS hanyalah butiran debu. Tak punya banyak sumber daya, tak memiliki kepiawaian mengelola perdamaian, dan AS sudah kehilangan kepercayaan warga dunia. Bahkan tidak ada negara yang mau bersekutu secara permanen kecuali adanya kepentingan. 

Potensi Umat Islam 

Padahal kesatuan negeri muslim bisa menjadi potensi kekuatan global baru. Umat Islam memiliki kekuatan militer terbesar di dunia, bahkan ada istilah "andai satu jam saja umat Islam bersatu maka AS-Israel akan dengan sangat mudah ditumbangkan". Selain itu, umat Islam memiliki cadangan minyak 48% terbesar di seluruh dunia, 17% cadangan gas bumi, sebagai jantung energi dunia.

Kemudian SDAnya, umat Islam ada 2 miliar di dunia dengan populasi sekitar 25% dari seluruh populasi dunia. Ini merupakan aset berharga bagi umat islam. Hanya saja sebagaimana hadits Rosulallah saw. "Umatku banyak di akhir zaman namun seperti buih di lautan, mereka banyak namun tak memiliki kekuasaan". Artinya umat Islam mengalami perpecahan hebat pasca runtuhnya Islam, wilayah Islam dipecah belah hingga 50 negara lebih dengan  "Natione State". 

Bangunlah Umat yang Terlelap

Kita harus berani mengakui bahwa umat Islam hari ini tidak bersatu. Lupakan perpecahan di antara kubu, perbedaan madzhab, Syiah-Sunni, dan perpecahan lainnya. Harusnya keberanian Iran menjadi estafet perlawanan yang bisa menularkan semangat persatuan untuk berjuang menghentikan penjajahan. Kita harus membangun kesadaran bahwa tanpa persatuan mustahil kita terlepas dari belenggu penjajahan.

Umat Islam bersatu dan kuat atas dasar persamaan akidah, perasaan dan aturan. Hari ini kita tak lagi diikat dengan ikatan tersebut. Ukuwah Islamiyah tergantikan oleh ikatan nasionalis yang lemah. Karena batas wilayah dan bangsa yang didesign penjajahlah kita tak mampu menolong saudara-saudara kita yang terjajah. 

Batas-batas inilah yang membuat kaum muslimin lemah dan terpecah hingga kehilangan arah. Persatuan yang dulu melampaui batas wilayah, samudra bahkan benua. Mesir yang dekat dengan Gaza saja tak mampu menolong hanya karena batas teritorial wilayah. Padahal kita adalah umat yang satu. Jika salah satu dari kita terdzalimi. Maka kita wajib membela. Siapapun kita dan dimanapun kita berada. Sebagaimana hadits Rosulallah saw, umat Islam itu bagai satu tubuh, jika salah satu bagian tubuh terluka, maka bagian tubuh lainnya ikut merasakannya.

Persatuan umat tak akan terwujud selama kita masih berada dalam kepemimpinan dibawah bayang-bayang hegemoni Barat. Umat Islam harus bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam untuk seluruh kaum muslimin di dunia yaitu tegaknya Khilafah Islam di tengah umat. Dengan tegaknya Khilafah maka Khilafah akan mengambil alih kendali atas negeri kaum muslimin, baik SDAnya, militernya, stabilitas, wilayah termasuk selat-selat jalur perdagangan internasional dan hak atas senjata.

Khilafah akan mengalahkan makar musuh dengan lantang tanpa kompromi, dan  menyerukan seruan komando jihad yang paling ditakuti, seruan inilah yang mampu menggerakkan perlawanan untuk menghancurkan hegemoni penjajahan. Sehingga mereka terus menghalau kebangkitan Islam untuk bersatu menegakkan Khilafah Islam.

Khatimah 

Perang AS Israel-Iran seharusnya mengajarkan kita tentang sebuah keberanian melawan penjajahan. Jika kita serius maka kita harus bersatu mengerahkan seluruh yang kita punya untuk menolong saudara kita. Sebab persatuan umat adalah urgensi yang harus di wujudkan, jika tidak sekarang lihatlah saudara-saudara kita yang menjadi korban demi mempertahankan iman, tanah suci, dan kehormatan. Mereka menunggu dibebaskan. Bangunlah wahai umat Islam, kalian sudah lama terlelap sadarilah hanya dengan menegakkan kembali kepemimpinan Islam maka penderitaan um at ini akan segera berakhir, diganti dengan kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam. 
Wallohu a'lam bishawwab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Tanah Ribath Media- April 24, 2026 0
Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS
Oleh: Putri Ramadhini (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Iran telah di embargo selama hampir 50 tahun oleh AS sejak revolusi pada t…

Most Popular

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us