OPINI
Pelajaran Konflik AS - Iran: Ilusi Hegemoni dan Urgensi Persatuan Umat
Oleh: Hanum Hanindita, S.Si.
(Penulis Artikel Islami)
TanahRibathMedia.Com—Pada beberapa waktu terakhir, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian dunia. Berbagai media menyoroti eskalasi konflik yang tidak hanya melibatkan kekuatan militer, tetapi juga pertarungan kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi global. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa terdapat peluang untuk mencapai perdamaian pasca gencatan senjata bersyarat selama dua minggu disepakati dengan Iran.Walaupun demikian, baik AS atau Iran sama‑sama mengklaim kemenangan.
Iran mengatakan akan membuka kembali Selat Hormuz dan bahwa "kemenangannya di medan pertempuran juga akan dikonsolidasikan" dalam perundingan mendatang di Pakistan. Sebaliknya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa ini merupakan "kemenangan militer AS", serta mengklaim bahwa militer Iran telah dibuat tidak lagi efektif untuk tahun‑tahun mendatang (bbc.com, 08-04-2026).
Di tengah situasi ini, umat Islam perlu mengambil pelajaran penting, bukan sekadar mengikuti arus informasi, tetapi memahami realitas yang terjadi dengan sudut pandang yang lebih mendalam.
Retaknya Mitos Kekuatan Adidaya
Selama ini, Amerika Serikat bersama Israel sering dipersepsikan sebagai kekuatan global yang tidak tertandingi. Namun, konflik dengan Iran menunjukkan bahwa dominasi tersebut tidak bersifat absolut. Iran, sebagai satu negara Muslim, mampu bertahan di tengah tekanan besar, bahkan memaksa dunia untuk mengakui bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang benar-benar mampu mengendalikan seluruh dinamika global secara mutlak.
Realitas ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kekuatan sejati tidak hanya ditentukan oleh superioritas militer, tetapi juga oleh ketahanan politik, strategi, dan yang tidak kalah penting kesatuan internal. Konflik ini memperlihatkan bahwa hegemoni global memiliki batas. Amerika Serikat tidak sepenuhnya mampu memaksakan kehendaknya, bahkan terhadap sekutu-sekutunya sendiri. Sejumlah negara memilih bersikap hati-hati dan tidak terlibat langsung, karena mempertimbangkan kepentingan nasional masing-masing.
Perbedaan klaim kemenangan antara Iran dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa konflik ini tidak menghasilkan dominasi mutlak dari salah satu pihak. Hal ini menegaskan bahwa dalam politik global, kekuatan besar sekalipun tetap memiliki keterbatasan. Allah Swt. berfirman:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140)
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang abadi. Pergiliran kekuasaan adalah sunnatullah yang pasti terjadi. Oleh karena itu, anggapan bahwa suatu negara akan terus mendominasi dunia adalah ilusi yang tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun ketetapan Allah.
Kepentingan Politik dan Rapuhnya Aliansi
Konflik ini juga membuka fakta bahwa aliansi internasional tidak dibangun atas dasar loyalitas, melainkan kepentingan. Negara-negara sekutu Amerika Serikat tidak serta merta mengikuti setiap langkahnya, terutama jika bertentangan dengan kepentingan nasional mereka. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sistem politik global saat ini bersifat pragmatis. Tidak ada persahabatan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.
Namun, di tengah dinamika tersebut, terdapat realitas yang lebih memprihatinkan: adanya sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim yang justru berpihak kepada kekuatan asing. Hal ini memperlihatkan bahwa kelemahan umat tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam. Rasulullah ï·º bersabda:
“Nyaris saja bangsa-bangsa lain akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang memperebutkan hidangan di atas meja.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian banyak, tetapi seperti buih di lautan…” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menggambarkan kondisi umat Islam ketika kehilangan kekuatan internalnya. Jumlah yang besar tidak lagi menjadi kekuatan jika tidak disertai dengan persatuan dan kualitas.
Kelemahan Internal Umat
Perpecahan di antara negeri-negeri Muslim merupakan salah satu faktor utama yang melemahkan posisi umat. Batas-batas nasional, konflik kepentingan, dan perbedaan politik sering kali menghalangi terwujudnya persatuan. Padahal, Allah Swt. telah memberikan peringatan yang sangat jelas. Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (TQS. Ali Imran: 103).
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan umat Islam adalah kewajiban yang sangat urgen. Dalam realitas global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terlihat bahwa perpecahan di dunia Islam justru melemahkan posisi umat dan membuka peluang dominasi pihak lain.
Umat Islam sejatinya memiliki potensi besar baik dari jumlah penduduk, kekayaan alam, maupun posisi strategis. Namun potensi ini belum menjadi kekuatan nyata karena tidak adanya kesatuan visi dan kepemimpinan.
Urgensi Persatuan Umat
Kesatuan umat membutuhkan institusi yang mampu mengikat seluruh negeri Muslim dalam satu kepemimpinan, yaitu Khilafah Islam. Dengan persatuan dalam satu sistem, kekuatan umat akan terintegrasi dan mampu menghadapi bahkan mengalahkan hegemoni negara-negara adidaya. Klaim kemenangan yang saling dilontarkan oleh Amerika Serikat dan Iran menunjukkan bahwa dominasi global bukanlah sesuatu yang mutlak dan tak tergoyahkan.
Khilafah juga dipandang sebagai solusi untuk membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan, intervensi asing, dan ketergantungan. Dengan kepemimpinan yang berlandaskan syariat, sumber daya umat dapat dikelola secara mandiri dan diarahkan untuk kesejahteraan umat, sehingga penderitaan di berbagai wilayah dapat diakhiri secara menyeluruh.
Akhirnya, melalui dakwah dan jihad dalam pengertian syar’i, Khilafah diharapkan mampu membawa rahmat bagi seluruh dunia. Umat Islam tidak hanya bangkit sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai pembawa nilai keadilan dan kebaikan bagi manusia. Dengan persatuan, iman, dan kepemimpinan yang kuat, umat Islam berpeluang kembali menjadi penentu arah peradaban dunia.
Wallahu'alam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar