opini
Imbas Perang, Harga BBM Terguncang
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Konflik antara Amerika Serikat - Israel dan Iran telah menimbulkan dampak yang signifikan kepada masyarakat global. Hal ini terjadi pasca Iran menutup selat Hormuz, sehingga menyebabkan lalu lintas perdagangan internasional terhambat. Salah satunya adalah pasokan energi berupa minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk ke berbagai wilayah lainnya. Upaya perundingan antara Amerika dan Iran juga masih menemui jalan buntu hingga saat ini dan penutupan selat Hormuz masih akan berlanjut (CNN Indonesia, 16-4-2026).
Pasokan BBM Menipis
Kenaikan harga minyak global dan terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah ke Indonesia juga berdampak signifikan. Meskipun, saat ini pemerintah hanya menaikkan harga BBM nonsubsidi, namun telah terjadi panic buying di tengah isu kenaikan harga BBM tersebut. Di berbagai kota sempat terjadi antrean yang panjang hingga berjam-jam di beberapa SPBU. Selain itu harga BBM eceran juga mengalami lonjakan harga yang tinggi.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, pemerintah akhirnya menaikkan anggaran APBN untuk menambal subsidi BBM. Namun saat ini pemerintah hanya bisa memastikan strategi ini akan bertahan beberapa minggu kedepan saja. Jika selat Hormuz masih juga belum dibuka, dan kapal tanker milik Pertamina masih belum mendapatkan izin dari pihak Iran untuk melintas, maka pemerintah akan bersiap dengan kebijakan baru yaitu membatasi pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, pembelajaran daring, work from home (WFH), serta mengurangi jumlah hari untuk MBG demi menghemat penggunaan BBM.
Di tengah krisis energi dunia sebagai akibat konflik global, pemerintah juga mengalami dilema. Jika menaikkan harga BBM bersubsidi, sudah bisa dipastikan akan terjadi inflasi besar-besaran. Naiknya harga bahan-bahan kebutuhan masyarakat, daya beli menurun, juga berimbas pada lesunya pasar dan gejolak sosial. Jika APBN terus terkuras untuk menambal subsidi BBM, maka akan terjadi defisit anggaran yang besar. Lalu rakyat juga yang akan menanggung beban pajak dan pembayaran utang negara.
Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya energi, namun negeri kita masih bergantung pada pasokan impor minyak dari Timur Tengah untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri. Isu global akan selalu berdampak pada pasokan energi dan harga BBM dalam negeri. Sehingga membuat rakyat sulit mendapatkan BBM dan menjangkaunya jika harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Angka Inflasi juga dipastikan akan terus mengalami kenaikan.
Khatimah
Inilah gambaran sebuah negeri yang sangat tergantung pada impor komoditas strategis seperti BBM dan energi dari luar. Kebijakan politik dan ekonominya pasti akan terguncang jika ada sentimen global. Kemandirian energi akan sulit terealisasi jika Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya masih dalam sekat nasionalisme. Sekat inilah yang akan menghalangi distribusi kekayaan alam secara merata.
Di satu sisi potensi kekayaan alam negeri-negeri muslim sejatinya sangat melimpah ruah. Apalagi kawasan Timur Tengah kaya dengan potensi minyak dan gas alam cair yang akan mampu mencukupi kebutuhan seluruh kaum muslimin dari berbagai kawasan. Oleh karenanya pemenuhan kebutuhan energi berupa minyak dan gas alam akan sangat mudah jika negeri-negeri kaum muslimin tergabung dalam satu kesatuan institusi khilafah. Dengan segala potensi tersebut, khilafah akan menjadi negara yang independen. Sehingga kebukan politik dan ekonominya tidak akan terguncang oleh sentimen global.
Kebijakan energi akan dilakukan oleh Khalifah semata untuk ri'ayah atau mengurusi kepentingan umat. Bukan untuk sesuatu yang sia-sia apalagi mudhorot. Sehingga Khalifah tetap akan menekan kebijakan menghemat energi dan memaksimalkannya untuk kebutuhan rakyat serta kepentingan jihad fii sabilillah. Selain itu, Khalifah juga akan membuat kebijakan pengembangan energi selain minyak seperti nuklir, tenaga surya dan lainnya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan energi negara adidaya.
Wallahu 'alam bi showab.
Via
opini
Posting Komentar