Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda opini Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan
opini

Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Marlina Wati, S.E 
(Muslimah Peduli Umat)

TanahRibathMedia.Com—Viralnya kenaikan harga plastik bukan sekadar isu biasa, melainkan sinyal adanya masalah yang lebih dalam. Dulu, plastik hanyalah benda kecil yang nyaris tak pernah dipikirkan harganya. Ia selalu ada, murah, dan mudah didapat. Namun kini, keadaan berubah. Ketika harga plastik melonjak dan menjadi perbincangan di mana-mana, kita mulai sadar bahwa hal paling sederhana pun bisa berubah menjadi masalah besar di tengah sistem yang tidak stabil.

Harga plastik di pasar mengalami kenaikan tajam hingga sekitar 50 persen, dari Rp10.000 menjadi Rp15.000. Kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak akhir Februari 2026 dan membuat beban biaya pedagang meningkat, terutama untuk kebutuhan kemasan sehari-hari. Tidak hanya itu, beberapa jenis plastik seperti HD, PE, dan OPP bahkan mengalami lonjakan harga hingga hampir dua kali lipat dari kisaran normal. 

Kondisi ini semakin menekan pedagang kecil yang sangat bergantung pada plastik untuk membungkus barang dagangan mereka. Penyebab utama kenaikan ini adalah konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi bahan baku, terutama di Selat Hormuz sebagai rute penting pengiriman. Jalur ini sangat vital karena sebagian besar bahan baku plastik, seperti nafta, berasal dari kawasan tersebut.

Akibat terganggunya pasokan, bahan baku menjadi langka sehingga harga plastik ikut melonjak di pasaran. Hal ini menunjukkan bagaimana konflik global bisa berdampak langsung pada ekonomi lokal. Saat ini pedagang masih berusaha menahan kenaikan harga barang dengan mengurangi keuntungan. Namun, jika situasi ini terus berlanjut, kemungkinan besar harga barang di pasar akan ikut naik karena pedagang perlu menyesuaikan biaya operasional yang semakin tinggi (Kompas.com, 06-04-2026).

Di Balik Mahalnya Plastik, Kapitalisme dan Permainan Pasar yang Menyengsarakan Rakyat

Fenomena naiknya harga plastik yang tengah viral saat ini bukan sekadar gejolak pasar biasa. Ia adalah cerminan dari bagaimana sistem kapitalisme bekerja memberi ruang luas bagi permainan pasar yang pada akhirnya justru menyengsarakan masyarakat kecil. Plastik, yang dulu identik dengan barang murah dan mudah diakses, kini berubah menjadi beban tambahan bagi banyak orang. 

Pedagang kecil harus memutar otak agar tetap bisa berjualan, UMKM terpaksa menaikkan harga atau mengurangi kualitas, sementara konsumen harus merogoh kocek lebih dalam. Semua ini terjadi bukan karena plastik tiba-tiba menjadi barang langka semata, tetapi karena mekanisme pasar yang tidak berpihak pada kestabilan kebutuhan rakyat. Dalam sistem kapitalisme, harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran. 

Sekilas terlihat adil, namun dalam praktiknya, kekuatan pasar tidak berada di tangan semua pihak secara setara. Pemilik modal besar memiliki kendali atas produksi, distribusi, bahkan stok barang. Di sinilah celah permainan itu terjadi penimbunan, spekulasi harga, hingga manipulasi distribusi yang membuat harga melambung tinggi. Sementara itu, negara sering kali tidak memiliki peran yang cukup kuat untuk mengendalikan situasi.

Alih-alih menjadi pelindung rakyat, negara justru tunduk pada mekanisme pasar bebas. Regulasi yang lemah membuat para pelaku besar leluasa mengatur permainan, sedangkan rakyat kecil hanya bisa menjadi korban dari fluktuasi harga yang tak menentu. Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini terus berulang dalam berbagai sektor, bukan hanya plastik. 

Dari bahan pokok hingga kebutuhan industri, pola yang sama selalu muncul ketika krisis terjadi, rakyat yang paling merasakan dampaknya, sementara segelintir pihak tetap diuntungkan. Kenaikan harga plastik hari ini seharusnya membuka mata kita semua. Bahwa ada sistem yang secara struktural memungkinkan ketimpangan ini terjadi. 

Kapitalisme bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal siapa yang memiliki kendali dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Jika kebutuhan sederhana seperti plastik saja bisa menjadi mahal karena permainan pasar, maka jelas ada yang salah dengan sistem yang kita jalani saat ini. Maka sudah saatnya kita tidak hanya mengeluhkan dampaknya, tetapi juga berani mempertanyakan akar masalahnya.

Islam Hadir Memberikan Solusi Hakiki, Menjamin Stabilitas Perdagangan dalam Naungan Khilafah Islamiyyah

Di tengah gejolak harga yang kian tak menentu termasuk mahalnya plastik yang kini viral masyarakat kembali dihadapkan pada satu kenyataan pahit, sistem yang ada hari ini gagal menjaga stabilitas kebutuhan. Ketika harga bisa melonjak tanpa kendali, dan rakyat kecil terus menjadi pihak yang paling terdampak, maka wajar jika muncul pertanyaan: adakah sistem yang benar-benar mampu menghadirkan keadilan dalam perdagangan?

Maka Islam hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem hidup yang sempurna, termasuk dalam mengatur ekonomi dan perdagangan. Dalam naungan Khilafah Islamiyyah, negara memiliki peran aktif sebagai pengatur dan penjaga pasar, bukan sekadar penonton seperti dalam sistem kapitalisme. Rasulullah ï·º telah memberikan teladan langsung dalam mengatur pasar. 

Rasul menolak segala bentuk praktik curang dan manipulatif. Dalam sebuah hadis disebutkan:

"Barang siapa menimbun barang (untuk menaikkan harga), maka ia berdosa." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam dengan tegas melarang praktik penimbunan (ihtikar) yang sering menjadi penyebab naiknya harga di pasar. Dengan larangan ini, stabilitas harga dapat terjaga dan masyarakat tidak dirugikan. Selain itu, negara dalam Islam juga berhak mengawasi distribusi barang agar tidak terjadi kelangkaan buatan. 

Rasulullah ï·º juga bersabda:

"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan." (HR. Ibnu Majah)

Prinsip ini menjadi landasan bahwa segala bentuk aktivitas ekonomi yang merugikan masyarakat harus dicegah. Negara wajib turun tangan jika terjadi ketidakadilan dalam perdagangan. Lebih jauh, Islam juga mengatur bahwa sumber daya penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh dikuasai oleh segelintir pihak.

Rasulullah ï·º bersabda:

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini mencakup sumber daya vital yang menjadi kebutuhan umum. Artinya, negara harus memastikan akses yang adil dan mencegah monopoli yang dapat menyebabkan harga melambung. Dengan aturan-aturan ini, perdagangan dalam negara Islam tidak dibiarkan liar mengikuti mekanisme pasar semata. 

Negara berperan sebagai penjaga keseimbangan, memastikan tidak ada pihak yang menzalimi atau dizalimi. Maka, ketika hari ini kita menyaksikan harga plastik melonjak dan kebutuhan rakyat semakin sulit dijangkau, Islam sesungguhnya telah menawarkan solusi yang jelas dan tegas. Bukan sekadar tambal sulam kebijakan, tetapi sistem yang menyentuh akar permasalahan. 

Sudah saatnya kita menyadari bahwa stabilitas ekonomi bukanlah mimpi utopis. Dalam Islam, ia adalah konsekuensi dari penerapan aturan yang adil dan menyeluruh. Di situlah Khilafah Islamiyyah hadir sebagai solusi hakiki menjamin perdagangan yang stabil, adil, dan menyejahterakan seluruh rakyat.
Via opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan

Tanah Ribath Media- April 13, 2026 0
Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan
Oleh: Marlina Wati, S.E  (Muslimah Peduli Umat) TanahRibathMedia.Com— Viralnya kenaikan harga plastik bukan sekadar isu biasa, melainkan sinyal ada…

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us