Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Straight News Hukum Gaduh Hewan Ternak, Begini Penjelasannya
Straight News

Hukum Gaduh Hewan Ternak, Begini Penjelasannya

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
04 Okt, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

TanahRibathMedia.Com—Pakar Fiqih Kontemporer, KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si., M.Si. menyatakan adanya khilafiyah di kalangan ulama mengenai syirkah gaduh hewan ternak.

"Terdapat khilāfiyah di kalangan ulama mengenai  syirkah yang bentuknya seseorang menyerahkan hewan ternaknya kepada orang lain untuk dipelihara dengan bagi hasil berupa anak yang akan dilahirkan dari hewan itu," tuturnya sebagaimana rilis yang diterima Tanah Ribath Media, Rabu (25-09-2024).

Menurutnya, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengharamkan model syirkah seperti di atas.

"Pendapat yang rājih (lebih kuat) menurut kami  adalah pendapat jumhur ulama yang mengharamkan model syirkah seperti di atas, karena dalilnya lebih kuat. Sedang pendapat yang membolehkan, tidak dapat diterima karena qiyasnya lemah (marjūh)," ujarnya.

Selanjutnya ia memberikan dua solusi altenatif mengenai gaduh yang diperbolehkan menurut syariat.

Pertama, USAJ menyarankan akad gaduh dengan ijarah. "Akad gaduh menggunakan akad ijārah, yaitu pemilik kambing menjadi pemberi kerja (al-musta`jir), sedang pemelihara kambing menjadi pekerja (al-ajīr), dengan ketentuan : 
(1) semua biaya pakan menjadi tanggungan pemberi kerja (al-musta`jir); 
(2) upahnya berupa sejumlah uang yang fixed (tetap/flat), misalnya pemelihara mendapat upah Rp 1 juta per bulan," bebernya.

Jadi, imbuhnya, upah yang diterima pemelihara/pekerja (al-ajīr), adalah berupa uang, bukan anak kambing yang akan dilahirkan. Jadi kalau pihak pemelihara menginginkan anak kambing yang dilahirkan, dia dapat membeli dari pihak pemberi kerja, namun akad jual beli ini sifatnya opsional atau tidak mengikat (ghairu mulzim) untuk dilaksanakan bagi pihak pemilik anak kambing. 

Kedua, sebagai orang yang memahami ilmu fiqih, Ustaz Shiddiq menyarankan akad kepemilikan bersama. "Akad gaduh menggunakan akad syirkah amlāk, yaitu kepemilikan bersama oleh dua pihak atau lebih pada suatu barang (al-‘ain) yang sama," jelasnya.

Jadi, sambungnya kembali, misalnya ada dua orang yang iuran sejumlah uang untuk membeli satu ekor kambing. Misal A iuran sebesar Rp 3 juta, sedang B iuran sebesar Rp 1 juta. Uang yang terkumpul, sejumlah Rp 4 juta, lalu dibelikan satu ekor kambing. Maka satu ekor kambing ini artinya dimiliki secara bersama oleh A dan B, berdasarkan syirkah amlāk. 

Dari keterangan di atas kemudian USAJ memberikan contoh-contoh syirkah yang diperbolehkan menurut syariat secara detail.

"Pihak A dan B sebagai sama-sama pemilik, lalu bersepakat bahwa pemeliharaan kambing dilaksanakan oleh B, dengan biaya ditanggung bersama oleh A dan B. Kemudian disepakati bagi hasil dan bagi ruginya, di antara dua pihak tersebut (A dan B). Bagi ruginya ditanggung sesuai persentase modal. Sedang bagi hasilnya, anak kambingnya dibagi dengan cara pembagian tertentu, misalkan jika tahun ini kambing itu beranak, maka anak kambing itu menjadi miliknya B (pihak kedua/pemelihara), dan jika tahun depan kambing itu beranak lagi, maka anak kambing itu menjadi miliknya A (pihak pertama)," urainya.

Terakhir ia menegaskan bahwa bentuk gaduh dengan syirkah amlak ini dibolehkan menurut hukum Islam.

"Bentuk gaduh dengan akad syirkah amlāk ini dibolehkan menurut syara’ (hukum Islam), sebagaimana penjelasan Syekh Muhammad Tāwīl dalam kitabnya Al-Syarikāt wa Ahkāmuhā fī Al-Fiqh Al-Islāmī, hlm. 75. Waallahu A'lam Bish Shawwab," pungkasnya. []Nur Salamah
Via Straight News
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us