OPINI
Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ
Oleh: Rini Ummu Aisy
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Bulan Agustus menjadi salah satu momentum yang menghadirkan suasana kemenangan bagi rakyat Indonesia. Berbagai kegiatan dan perayaan digelar di berbagai tempat dengan penuh kegembiraan. Pada bulan yang sama, umat Islam juga memperingati momentum kelahiran Rasulullah ﷺ yang dirayakan di berbagai penjuru Indonesia dan di belahan dunia lainnya.
Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi ﷺ diisi dengan berbagai kegiatan, seperti pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga pawai. Namun, tidak jarang substansi peringatan tersebut berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Kita sering menyaksikan pengajian yang berlangsung berjam-jam, bahkan hingga larut malam. Sayangnya, semangat mengikuti kegiatan tersebut terkadang tidak berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Ada kalanya jamaah begitu larut dalam euforia hingga lalai menunaikan shalat fardhu. Naudzubillahi min dzalik, semoga kita senantiasa dijauhkan dari hal demikian.
Pembahasan tentang ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ dalam momentum Maulid sering kali hanya diarahkan pada keteladanan akhlak beliau. Padahal, keteladanan Rasulullah ﷺ juga mencakup perjuangan beliau dalam mengubah kehidupan masyarakat yang berada dalam kondisi jahiliyah—yakni kehidupan yang dipenuhi penghambaan kepada selain Allah, dunia, dan hawa nafsu—menuju kehidupan yang menjadikan penghambaan hanya kepada Allah Swt.
Tuntutan untuk melakukan perubahan sebenarnya telah tumbuh di tengah umat Islam. Namun, arah perubahan dan metode yang ditempuh masih belum sepenuhnya merujuk pada metode perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak semestinya hanya diwujudkan melalui ungkapan di lisan atau berbagai bentuk perayaan. Kecintaan tersebut seharusnya melahirkan keterikatan terhadap risalah yang beliau bawa sekaligus kesungguhan untuk mengikuti petunjuknya.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah Swt. memiliki konsekuensi, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, cinta bukan sekadar pengakuan, melainkan harus dibuktikan melalui ketaatan dan ittiba’ kepada beliau.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Kecintaan itu harus tertanam dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dengan berusaha mengikuti ajaran serta petunjuk yang beliau bawa.
Di tengah kehidupan umat saat ini, kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik sering kali terabaikan. Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme dipandang sebagai sistem kehidupan yang menjadikan kepentingan duniawi dan hawa nafsu sebagai salah satu orientasi utama kehidupan.
Sistem kapitalisme, demi mempertahankan keberlangsungannya, akan terus menghadapi berbagai gagasan yang menghendaki perubahan terhadap sistem tersebut. Karena itu, suara umat Islam yang menyerukan perubahan kehidupan berdasarkan Islam akan menghadapi berbagai tantangan.
Atas dasar itu, makna ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ perlu dikembalikan pada pemahaman yang menyeluruh. Ittiba’ tidak hanya diwujudkan melalui ritual dan kecintaan secara emosional, tetapi juga melalui keterikatan kepada syariat dan keteladanan terhadap perjuangan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 31, kecintaan kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim mendorong umat Islam untuk berupaya menghadirkan kehidupan yang berlandaskan syariat Islam secara kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah), sebagaimana perjuangan dakwah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ di Makkah.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (TQS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh dalam menjalankan dakwah dan perjuangan. Dalam kerangka metode perjuangan yang menjadi pembahasan tulisan ini, tahapan tersebut dikenal dengan tiga marhalah, yaitu tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Melalui metode tersebut, kehidupan Islam diharapkan dapat kembali tegak sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Allah Swt. berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya: 107)
Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi ﷺ semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara, pembacaan shalawat, tabligh akbar, maupun pawai semata. Momentum ini hendaknya menjadi sarana untuk kembali memahami risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ, menumbuhkan kecintaan yang benar kepada beliau, serta berusaha mengikuti petunjuk dan keteladanan beliau dalam kehidupan.
Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti berusaha menaati dan mengikuti ajaran yang beliau bawa. Kecintaan tersebut semestinya melahirkan ittiba’ yang nyata dalam kehidupan seorang Muslim.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar