OPINI
Dampak Asap Karhutla: Ancaman Kesehatan dan Tanggung Jawab Negara dalam Islam
Oleh: Nining
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked. Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI serta Dokter Spesialis Paru di RSUP Persahabatan menyampaikan keterangan kepada ANTARA di Jakarta, Rabu 26 Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat berbahaya bagi kesehatan, karena mengandung beragam zat beracun, gas, dan partikel halus yang merusak. Paparan ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik yang muncul secara mendadak maupun dampak yang bertahan lama.
Kelompok yang paling rentan dan berisiko tinggi antara lain: ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, serta penderita penyakit kronis seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), penyakit jantung, dan gagal jantung.
Tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai jika terpapar asap meliputi: iritasi saluran pernapasan, batuk, pilek, hidung berair, hingga mata terasa perih atau tidak nyaman. Apabila keluhan terus berlanjut, mengganggu aktivitas, atau disertai demam, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Saat ini Karhutla meluas di sejumlah wilayah — mulai dari Gunung Bromo, Magetan, hingga kawasan yang terdampak paling luas yaitu Kalimantan dan Papua — dan belum sepenuhnya tertangani. Kerusakan alam merugikan makhluk hidup, hewan kehilangan tempat tinggal, asap mengancam kesehatan warga, bahkan sejumlah relawan pun menjadi korban saat berupaya memadamkan api. Lambatnya penanganan membuat masyarakat harus menanggung beban berat sendirian.
Dalam pandangan Islam, Negara berkewajiban sepenuhnya menjaga dan melindungi rakyatnya, termasuk mencegah bencana serta menanganinya dengan cepat dan tepat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap pemimpin yang memimpin sekelompok orang adalah bagaikan penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya."
(HR. Muttafaq ‘alayh)
Allah Swt. juga memerintahkan manusia untuk menjaga bumi dan tidak merusaknya:
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..." (TQS. Al-A‘raf: 56)
Menjaga alam, mencegah kerusakan, serta melindungi keselamatan dan kesehatan sesama adalah amanah. Ketika manusia menjaga bumi sesuai perintah-Nya, alam pun akan memberi kebaikan dan manfaat bagi kehidupan bersama. Orang yang benar-benar bertakwa pasti menjauhi segala perbuatan yang merusak di muka bumi.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Via
OPINI
Posting Komentar