OPINI
Guru Wajib Digugu dan Ditiru
Oleh: Umi Hanifah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Seorang guru berhak mendapatkan penghargaan dan kehormatan. Profesi mulia yang melahirkan dokter, hakim, ekonom, tentara, politikus, dan berbagai keahlian lainnya. Begitu besar jasa seorang guru, sangat layak mendapat apresiasi dan kedudukan tinggi. Gaji guru pun harus diperhatikan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Ketika kebutuhannya terpenuhi, seorang guru akan fokus untuk mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengawal anak didiknya meraih asa. Guru pahlawan yang harus diberikan padanya tanda jasa.
Guru layak digugu atau dipercaya sekaligus ditiru selama mereka mengajarkan kebaikan, akan tetapi tidak harus digugu dan ditiru jika mengajak keburukan. Guru manusia biasa yang bisa salah, jika salah perlu diarahkan bukan dikriminalisasi. Hari ini sering kita dapati guru dibully, direndahkan, hingga dikriminalisasi hanya karena mendisiplinkan para siswanya. Undang-undang perlindungan anak menjadi ancaman buat para guru ketika mengarahkan anak didik. Kewibawaan dan kehormatan guru runtuh di depan peraturan yang amburadul.
Sekularisme kapitalis telah menggerus akhlak para generasi, mereka beragama akan tetapi tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan. Agama di tempatkan di pojok sempit peribadatan. Akibatnya panutan mereka bukan guru, apa yang viral itulah yang diburu dan ditiru. Arah kurikulum yang jauh dari tuntunan agama menjadikan anak didik mudah terbawa arus. Tawuran, narkoba, zina, membunuh, mencuri, dan berbagai penyimpangan lain seakan menjadi ajang unjuk gigi dan validasi. Sungguh miris melihat kelakuan para pelajar yang sudah di luar kendali.
Hukuman yang diterapkan juga ambigu, para pelajar dianggap masih di bawah umur. Sanksi hanya berupa teguran, pembinaan, rehabilitasi, wajib lapor dan lainnya. Hukuman tidak menimbulkan jera, yang ada justru kelakuan bejat terus menerus mereka lakukan.
Islam Menghormati dan Memuliakan Guru
Islam memandang bahwa guru adalah penyambung risalah Nabi saw. Mereka melanjutkan syariat untuk sampai ke tengah-tengah manusia. Peran mulia yang Allah puji dan semua makhluk mendoakan para pengajar kebaikan. Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam sarangnya serta ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi).
Allah Swt. juga mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu yang termaktub dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11. Islam memuliakan guru dengan diberikan gaji yang mencapai puluhan juta perbulan. Pada masa amirul mu’minin Umar bin Khathab gaji guru mencapai nilai yang fantastis, 15dinar atau setara 33 juta rupiah perbulan. Nilai yang sepadan dengan pengorbanan tenaga dan waktu guru dalam mendidik para murid. Dengan gaji yang besar tentu saja seorang guru maksimal dalam mencetak generasi berprestasi sekaligus berakhlak mulia.
Kehebatan anak didik ditopang juga dengan keikhlasan guru. Guru yang mengajar karena ingin meraih rido-Nya akan bersungguh-sungguh dalam kondisi apa saja. Apalagi ada jaminan pahala yang terus menerus mengalir hingga yaumil kiamah bagi orang yang menunjuki seseorang ilmu kemudian mereka mengamalkannya. Membuat para guru semakin bersemangat menjalankanya peran mulia tersebut.
Sebaliknya, dalam sistem sekularisme kapitalis, menjadikan para guru hanya mengejar materi karena dijauhkannya agama dalam mengatur kehidupan. Negara abai terhadap kesejahteraan guru, banyak guru yang mencari tambahan penghasilan sehingga tidak fokus pada perannya mendidik murid. Akibatnya banyak anak didik yang tidak kompeten, sekedar ingin mendapatkan selembar ijazah.
Saatnya kita membuang sistem sekularisme yang menjadi sumber masalah dan bersama-sama memperjuangkan penerapan sistem lslam yang terbukti menghormati dan memuliakan guru.
Allahu a’lam
Via
OPINI
Posting Komentar