OPINI
Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan
Oleh: Tiya
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Setiap tahun bangsa ini merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan berbagai slogan dan seremonial. Namun, realitas yang tampak justru kian menyedihkan. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya generasi berilmu dan berakhlak mulia, kini menghadirkan wajah yang semakin buram dan memprihatinkan.
Beragam fakta di lapangan menunjukkan betapa pendidikan kita sedang berada dalam kondisi gawat darurat. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan pelajar maupun mahasiswa semakin meningkat, memperlihatkan bahwa sekolah dan kampus belum menjadi ruang aman. Di sisi akademik, kecurangan seperti mencontek, menjamurnya joki UTBK, hingga budaya plagiat terjadi di banyak lembaga pendidikan tanpa rasa malu. Tak kalah mengkhawatirkan, peredaran narkoba di kalangan pelajar terus bertambah, merusak masa depan generasi muda.
Lebih jauh, perilaku pelajar yang semakin berani menghina guru bahkan memenjarakan guru hanya karena teguran atau hukuman, memperlihatkan hilangnya adab yang seharusnya menjadi pondasi utama dalam pendidikan. Semua ini menggambarkan adanya krisis kepribadian yang serius di tengah peserta didik.
Hardiknas seharusnya tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan alarm bagi seluruh pihak bahwa pendidikan kita sedang menuju jurang kehancuran moral. Krisis ini menunjukkan kegagalan implementasi peta jalan pendidikan, yang alih-alih melahirkan generasi beradab, justru menghasilkan pribadi yang sekuler, liberal, dan pragmatis. Nilai-nilai moral dan spiritual terpinggirkan, sementara orientasi duniawi dan kebebasan tanpa batas justru diagungkan.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik turut memperparah keadaan. Dengan orientasi kesuksesan instan dan pencapaian materi, banyak pelajar lebih memilih jalan pintas, bahkan menghalalkan berbagai cara demi hasil yang cepat. Tidak mengherankan bila kecurangan, penipuan akademik, dan penyimpangan moral semakin mudah ditemukan.
Di sisi lain, lemahnya sanksi terhadap pelajar yang melakukan tindak kejahatan—karena alasan masih di bawah umur—membuka ruang toleransi terhadap kriminalitas. Mereka menganggap penyimpangan sebagai “kenakalan biasa”, bukan pelanggaran serius. Semua ini diperburuk oleh minimnya pendidikan agama yang benar. Tanpa landasan iman dan takwa, kebebasan yang diberikan justru menjadi pintu gerbang bagi kerusakan akhlak.
Pendidikan untuk Melahirkan Insan Kamil
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja atau mengejar prestasi duniawi, tetapi merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dipenuhi negara. Sistem pendidikan Islam berlandaskan akidah, yang melahirkan insan kamil—individu yang cerdas sekaligus bertakwa. Landasan ini membuat pelajar menjauhi kecurangan dan senantiasa menjaga integritas, karena sadar bahwa ilmu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Pendidikan Islam juga menekankan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Ilmu tidak berhenti pada kognisi, tetapi membentuk kepribadian yang matang dan berakhlak mulia. Dengan karakter seperti ini, pelajar tidak mudah terjerumus dalam kejahatan ataupun perilaku amoral.
Selain itu, Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas dan mendidik bagi pelaku kejahatan, termasuk pelajar. Penegakan hukum yang adil dan tegas bukan hanya memberikan efek jera, tetapi juga menjaga lingkungan pendidikan tetap aman dan sehat. Negara dalam sistem Islam juga berkewajiban membangun suasana kehidupan yang dipenuhi ketakwaan. Lingkungan sosial yang baik akan mendorong pelajar berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kenakalan dan pelanggaran. Sinergi antara pendidikan keluarga, masyarakat, dan negara akan menghasilkan generasi kokoh yang tidak mudah goyah oleh arus keburukan.
Semua komponen pendidikan dalam Islam harus berpijak pada akidah dan syariat. Dengan cara inilah pendidikan benar-benar menjadi proses memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak lulusan yang terampil tetapi kosong nilai.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar