SP
Urbanisasi Pascalebaran: Bukti Ketimpangan Ekonomi Desa dan Kota
TanahRibathMedia.Com—Setiap tahunnya, momen lebaran identik dengan bertemu serta berkumpul dengan keluarga. Mudik menjadi bagian tak terpisahkan di momen lebaran. Arus mudik menjadi perhatian negara karena berkaitan dengan kepadatan di perjalanan.
Setelah lebaran kemarin, arus balik diketahui jumlahnya lebih banyak daripada arus mudik sebelumnya. Itu karena selain kembalinya warga yang mudik, ada pula yang melakukan urbanisasi. Mereka yang kembali ke kegiatannya di kota, membawa serta sanak saudara atau kerabatnya dengan tujuan mencari peluang kerja yang lebih baik di kota (metrotvnews.com, 27-03-2026).
Urbanisasi memang masih terus terjadi karena kurangnya peluang kerja di desa asalnya. Sebagian orang mencari peluang yang lebih besar untuk memperbaiki kondisi ekonominya dengan pergi dan menetap di kota. Fenomena ini sering terjadi ketika arus balik pasca lebaran. Urbanisasi ini juga menunjukkan memang terjadi ketimpangan ekonomi antara desa dan kota di negara ini. Urbanisasi memang memiliki hal positif yaitu dapat memiliki peluang lebih untuk memperbaiki kondisi ekonomi seseorang.
Namun, seperti koin, jika ada kelebihan, maka pasti ada kekurangannya. Salah satu kekurangan dari urbanisasi ini adalah semakin berkurang SDM muda di desa. Sebaliknya, di kota malah terbebani secara demografi akibat membludaknya penduduk baru yang masuk ke kota. Jika diperhatikan, urbanisasi ini memang terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi antara desa dan kota. Kesenjangan ini terjadi adalah buah dari sistem kapitalisme.
Kapitalisme tidak membuat kebijakan pembangunan yang merata antara desa dan kota. Hal itu jadi menyebabkan sumber daya dan anggaran yang juga tidak merata, hanya terpusat pada kota, sedangkan di desa hanya sebagai pelengkap saja atau terabaikan. Kalau pun ada program untuk desa, itu kebanyakan hanyalah pencitraan atau bancakan proyek saja, bukan benar-benar untuk kemajuan desa.
Hal ini tidak akan terjadi jika di bawah sistem politik ekonomi Islam. Di Islam, pembangunan akan diwujudkan secara merata baik di desa maupun di kota. Pemenuhan kebutuhan di sistem Islam ditujukan bagi setiap individu, sehingga di mana pun ada orang, di situlah pemenuhan kebutuhan dilakukan. Pembangunan ekonomi pun dilakukan di seluruh wilayah, di setiap sudut negara untuk melayani kebutuhan setiap individu yang dinaungi negara.
Sektor pertanian pun dikelola dengan baik sehingga dapat memajukan masyarakat desa. Hal ini akhirnya bisa mengurangi aktivitas urbanisasi di negara. Sebagai outputnya, negara maju tidak hanya di kota, melainkan di desa juga. Kepala negara tidak hanya diam, ia akan melakukan inspeksi secara langsung sampai ke pelosok desa sehingga tahu betul kondisi rakyat dan hal apa yang mereka butuhkan. Rakyat pun akan makmur dan sejahtera.
Oleh: Sarah Fauziah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar