OPINI
Hiburan yang Berubah Menjadi Inspirasi Kekerasan
Oleh: Rahmayanti, S.Pd
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Di era digital, game online menjelma menjadi hiburan utama anak muda. Namun, di balik visual menarik dan alur permainan yang seru, terselip persoalan serius, banyak game mengangkat tema pembunuhan, perkelahian brutal, dan kekerasan ekstrim seolah-olah hal tersebut sebuah prestasi. Ironisnya, tidak sedikit kasus kekerasan di dunia nyata yang terispirasi dari adegan dalam game. Ketika hiburan mulai mengikis nurani, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekedar waktu, melainkan rasa kemanusiaan itu sendiri.
Platform digital tidak netral, ternyata banyak nilai dan ajaran yang merusak dikemas dalam bentuk game yang menarik. Game online bertema kekerasan bekerja secara perlahan namun pasti dan tersistematis. Pemain dilatih untuk menganggap pembunuh sebagai misi, kekerasan sebagai kemenangan, dan empati sebagai penghalang. Anak dan remaja yang secara psikologis masih dalam tahap pembentukan karakter dan jati diri menjadi kelompok yang paling rentan terseret.
Di Medan, Sumatera Utara Rabu, 10 Desember 2025, seorang anak berusia 12 tahun berinisial A diduga membunuh ibu kandungnya, F (42). Kombes Calvijn mengungkapkan korban kerap memarahi suami dan dua anaknya termasuk pelaku. Dia melihat ada motivasi dan obsesi di sini. Motivasinya adalah korban selalu mengancam bahkan memarahi suaminya, kakak yang merupakan anak juga dan adik (pelaku). Dia juga mengatakan penghapusan game online milik tersangka pelaku menjadi motif kedua. Dan ada obsesi dengan melihat cara tersangka melakukan tindakan pembunuhan terhadap ibunya. Dia mengatakan tindakannya diduga dipengaruhi anime dan game online.
Paparan berulang terhadap game online kekerasan akan dapat menurunkan sensivitas moral dan perlahan mematikan nurani. Rasa bersalah memudar, adrenalin menjadi candu, dan batas antara dunia maya dan dunia nyata kian kabur. Ketika kontrol keluarga dan negara lemah, game tidak hanya sekedar hiburan tetapi juga bisa menjadi guru yang salah arah mengajarkan bahwa kekuatan fisik dan kekerasan adalah jalan atau solusi atas segala permasalahan.
Hal lainnya yang begitu berperan penting adalah pemanfaatan ruang digilal oleh para kapitalis dalam meraup keuntungan tanpa memedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia, juga retaknya tatanan sosial masyarakat, karena dengan banyaknya waktu terbuang untuk game maka banyak hak dan kewajiban yang dilupakan baik di dalam keluarga dan masyarakat.
Belum lagi abainya negara dalam melindungi masyarakat terutama generasi mudanya dari bahaya yang diakibatkan game online mengandung konten kekerasan. Kuatnya hegemoni digital oleh kapitalisme global sejatinya haruslah dilawan juga dengan kekuatan kedaulatan digital bukan oleh yang lain.
Di dalam Islam ada aturan yang sempurna agar semua kehidupan bisa berjalan sesuai dengan syariat Islam. Untuk bisa menangkal kerusakan generasi dari bahaya game online ada 3 pilar yang seharusnya dijalankan. Yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan peran negara, ketiga hal ini tidak akan bisa dilepaskan karena berjalan seiring bersama agar terciptanya masyarakat yang aman, adil dan sejahtera. Pertama ketakwaan individu yang menjadikan dasar bertindak dan berbuat adalah syariat Islam yaitu standar perbuatan adalah halal dan haram. Maka apapun yang dilakukan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Ketakwaan dan kesadaran ini sudah tertanam sejak kecil hingga dewasa sampai tua.
Yang kedua, adanya kontrol masyarakat, masyarakat dengan kesadarannya penuh menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat sebagai garda terdepan dalam bertindak dan mencegahnya, maka amanlah keadaan masyarakat.
Tidak kalah pentingnya yang ketiga yaitu peran negara yang memiliki kewajiban bertanggung jawab atas segala keadaan masyarakatnya, juga memenuhi segala kebutuhan dasar atau hajat hidup orang banyak, menyelesaikan permasalahan masyarakat. Keadaan ini membuat masyarakat merasa cukup dan tidak berfikir untuk berbuat kemaksiatan yang akan merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Negara berusaha melindungi masyarakat dengan membuat kebijakan menyingkirkan konten-konten ataupun game-game yang sarat merusak dan berbahaya, lalu mengganti dengan konten atau tayangan yang mendidik. Negara juga akan menindak dengan tegas apabila ada yang berusaha berbuat kejahatan/ tindak kriminal dengan sanksi yang membuat si pelakunya akan berpikir ulang untuk melakukan lagi karena ada efek jera dengan hukumannya yang berat.
Negara yang menerapkan syariat Islam akan menjalankan sistem politik, sistem ekonomi dan pendidikan, pergaulan dan sebagainya berdasarkan Islam. Karenanya dengan menjalankan Islam secara kaffah (keseluruhan) akan terlihat bahwa negara memiliki tanggung jawab serta memberikan jaminan kelayakan hidup bagi segenap masyarakatnya.
Via
OPINI
Posting Komentar