Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda Opini Bali Menangis: Pariwisata Dipuja, Alam Dikhianati
Opini

Bali Menangis: Pariwisata Dipuja, Alam Dikhianati

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
22 Sep, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Prayudisti SP
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Pulau Bali kembali berduka. Hujan deras yang mengguyur pulau ini memicu banjir bandang besar. Sebanyak 18 orang meninggal dunia, 5 orang masih hilang, dan ratusan orang mengungsi dari rumah mereka yang terendam. Banjir ini merendam 123 titik di enam kabupaten/kota. Salah satu sungai utama di Denpasar, meluap karena aliran airnya tersumbat oleh bangunan yang padat di sekitarnya (BeritaSatu, 11-9-2025).

Fakta lain yang terungkap lebih mengejutkan. Hutan di hulu Gunung Batur yang seharusnya menjadi daerah resapan air kini hanya tersisa 1.200 hektar dari total 49.000 hektar. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah akomodasi wisata di Bali melonjak dua kali lipat. Sawah dan subak—yang selama ratusan tahun menjadi kearifan lokal pengelolaan air—berangsur hilang, digantikan hotel, vila, dan bangunan pariwisata modern (Kompas.id, 12-9-2025).

Menteri Lingkungan Hidup sendiri mengakui bahwa penyebab banjir bukan semata cuaca ekstrem, melainkan juga tumpukan sampah dan alih fungsi lahan yang masif (Kumparan, 13-9-2025). Ini memperlihatkan bahwa bencana yang menimpa Bali bukan sekadar musibah alam, melainkan buah dari ulah manusia sendiri.

Kapitalisme dan Perusakan Tata Ruang

Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah banjir Bali adalah paradigma pembangunan kapitalistik. Pemerintah daerah maupun pusat menempatkan pariwisata sebagai motor utama ekonomi. Konsekuensinya, ruang-ruang ekologis yang vital bagi keseimbangan alam dikorbankan demi kepentingan investasi. Hutan ditebang, sawah dialihfungsikan, sungai dipersempit, semua demi hotel, vila, kafe, dan pusat hiburan wisata.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sejatinya ada, tetapi implementasinya lemah. Bangunan kerap berdiri di bantaran sungai, bahkan di zona konservasi. Menurut Metrotvnews (11-9-2025), alih fungsi lahan dan lemahnya pengendalian tata ruang kini menjadi sorotan utama dalam bencana banjir Bali.
 
Beginilah logika kapitalisme: keuntungan ekonomi lebih diprioritaskan ketimbang keselamatan ekologi. Turis dan investor lebih dipentingkan daripada keseimbangan alam dan perlindungan rakyat. Maka, wajar jika bencana datang berulang, karena alam dipaksa tunduk pada logika uang, bukan dilestarikan sebagai amanah bersama.

Islam: Alam adalah Amanah Allah

Dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar objek eksploitasi. Hutan, sungai, dan air adalah milik umum yang tidak boleh dikomersialisasi secara serakah. Rasulullah saw. bersabda:

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menegaskan bahwa sumber daya alam adalah milik bersama, yang pengelolaannya harus ditujukan untuk kesejahteraan rakyat, bukan segelintir pemilik modal.

Al-Qur’an pun sudah mengingatkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Rum [30]: 41).

Kerusakan ekologis seperti banjir bandang di Bali adalah akibat nyata dari tangan manusia yang serakah. Menebang hutan, mempersempit sungai, mengganti sawah dengan beton, semua adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

Negara Wajib Menjaga Tata Ruang

Islam mewajibkan negara untuk menjaga kelestarian alam. Tata ruang harus diatur sesuai maslahat, bukan kepentingan bisnis. Pembangunan tidak boleh merusak fungsi ekologis. Sungai harus dilestarikan, hutan dijaga, lahan pertanian dipertahankan. Negara juga wajib memberikan edukasi kepada rakyat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah.

Berbeda dengan kapitalisme yang menjadikan pariwisata sebagai sumber utama pemasukan negara, Islam tidak menggantungkan ekonomi pada sektor rapuh semacam itu. Negara dalam Islam mendapatkan pemasukan dari sumber-sumber syariat seperti pengelolaan kepemilikan umum (tambang, energi, air), fai, ghanimah, jizyah, kharaj, dan zakat. Dengan demikian, negara tidak perlu menggadaikan lahan dan lingkungan demi menarik investor asing.

Penutup

Banjir bandang di Bali adalah cermin betapa rapuhnya sistem pembangunan kapitalistik. Dalam 20 tahun terakhir, Bali dipoles untuk turisme, tapi keseimbangan alam diabaikan. Hasilnya: bencana datang berulang, rakyat yang menjadi korban.

Islam menawarkan solusi komprehensif. Alam dipandang sebagai amanah Allah, bukan komoditas. Negara wajib mengatur tata ruang yang selaras dengan kelestarian alam dan menjaga rakyat dari bencana. Dengan penerapan syariat Islam kaffah, pembangunan tidak akan berbenturan dengan ekologi, melainkan berjalan harmonis. Saatnya kita kembali pada aturan Allah, sebab hanya dengan Islam kehidupan manusia dan keseimbangan alam dapat terjaga.
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us