IBRAH
Aku Kecil di Hadapan-Nya dan Bukan Siapa-Siapa di Hadapan Manusia
Oleh: Kartika Soetarjo
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Hari itu, aku bersama suamiku terbang untuk memenuhi undangan-Nya, serta menjemput hotel bintang 5 yang dijanjikan. Koper kami penuh sesak bukan hanya oleh pakaian, tapi juga dipenuhi dengan banyaknya titipan doa dan salam untuk Rasulullah saw. dari keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat.
Berjuta rasa berbaur di dada. Bahagia, bangga, terharu, sekaligus takut.
Aku bahagia karena mendatangi tempat mulia yang diimpikan setiap muslim.
Aku bangga karena Allah mengundang kami yang hanya orang biasa dengan cara-Nya. Aku takut, karena tidak yakin dengan amal-amalku. konon katanya, semua amal dan kebiasaan kita di tanah air akan diperlihatkan di sana. "Nak, tobat dulu sebelum pergi ke sana,ya", sebuah nasihat lembut dari ibuku.
Aku pun terharu atas semua anugerah-Nya.
Dari tahun ke tahun, kejutan indah seakan datang tak henti-henti. Dan umrah adalah hal paling berharga yang aku dapatkan tahun ini.
Umrah adalah hal yang sangat aku damba di setiap ketidakmungkinan, yang dibungkus harapan dalam doa yang malu-malu untuk dipanjatkan. Mengingat, diri ini hanya manusia biasa, dan amal ini belum ada yang sempurna. Namun ketika Allah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalanginya.
Di atas sajadah, aku menunduk. Hidup seolah tidak pernah malang. Yang tersisa hanya rasa syukur dan senyuman.
Namun, hati kecilku bertanya,
"Ya Allah, kebaikan apa yang kumiliki hingga Engkau memberiku anugerah bertubi-tubi?"
Mataku menghangat. Sekuat apa pun hati mencari, sekecil apa pun kebaikan itu tak kudapati pada diri. Prasangka yang kadang buruk kepada Allah, dan kepada manusia, sedekahku belum ikhlas. Salatku belum ada yang khusyuk. Dakwahku pun masih terbata dan kerap mencari penilaian manusia. Tapi Engkau balas semuanya dengan beribu bunga bahagia"
Aku menangis sesengukan, didera rasa malu yang hebat kepada Allah Ar-Rahman. Malu karena pernah berburuk sangka saat doa belum menjelma. Malu atas salat yang cacat dan amal yang kosong dari ikhlas. Namun, di atas semua maksiat, Allah justru membalasnya dengan berjuta nikmat.
Tibalah di Mekkah. Di sana, aku semangat dan bahagia. Fisik yang dikhawatirkan lemah, ternyata kuat. Makanan yang dikhawatirkan tidak enak, sebagaimana cerita banyak orang, ternyata selalu nikmat. Ku usahakan Salat selalu di Masjidil Haram.
"Kapan lagi bisa salat di Haram yang pahalanya jauh berlipat ganda dibanding salat di tanah air? Belum tentu tahun depan bisa ke sini lagi," hatiku bermonolog.
Bisa berdoa bersama pasangan, acap kali melaksanakan tawaf sunnah berdua tanpa rombongan, serta mampu menggapai dan menangis di Ka’bah dengan perjuangan yang dahsyat, karena sesaknya ratusan manusia harus kami lewati untuk mencapainya, membuat hati ini lega.
Mungkin tanpa disadari, semua itu mengundang sedikit jumawa ke dalam ruang kecil dalam jiwa yang hanya diketahui oleh Allah Swt.
Tibalah saatnya agenda ke Madinah. Dua hari di sana, kuat, nikmat, dan semangat dalam diri masih melekat. Namun ketika masuk hari ketiga, subhanallah, seketika semua itu Allah ambil dari ragaku. Cuaca Madinah yang teramat panas berhasil membuat runtuh tubuh yang semula merasa tangguh.
Siang itu badan serasa benar-benar tak berdaya. Matahari Madinah seakan memanggang raga. Dari mulai kulit, daging, hingga tulang serasa dibakar. Rasa lezat yang semula selalu memeluk lidah, seketika Allah ganti dengan rasa pahit yang melebihi pahitnya kenyataan hidup.
Beruntung, semua agenda umrah kami sudah selesai, dan pemimpin menginstruksi agar semua jamaah tidak boleh ada yang keluar hotel. Semua harus diam di hotel, dan melakukan packing untuk pulang esok hari.
Aku masuk ke kamar. Raga yang semula kokoh, seketika roboh tersungkur di atas kasur.
Tak ada yang mampu kulakukan, selain hati yang terus beristighfar...
"Ya Rabb... maaf jika dalam hati ini ada sedikit bangga atas kemampuan dalam melaksanakan semua peribadahan. Ternyata semua kekuatan dan rasa ini milik-Mu. Dan ketika hamba merasa memiliki, Engkau ambil semua. Kini hamba tak berdaya. Astaghfirullah... Astaghfirullah."
Aku dicengkram demam tinggi. Raga tak berdaya bahkan di hadapan manusia yang pernah aku anggap lemah, karena kerap kubantu.
Suamiku bolak-balik resto - kamar, untuk mengantarkan makanan kepadaku.
Begitulah cara Allah menyayangi makhluk-Nya. Sakit bukan tanda kebencian-Nya, tapi cara-Nya menegur makhluk yang beriman agar menyadari bahwa kekuatan dan kemampuan hanya milik-Nya.
Ibrah
Masjidil Harram dan Kabah adalah tujuanku. Hotel bintang 5 adalah keinginan semua jamaah, dan termasuk impianku. Agar jarak ke Harram tidak terlalu jauh, serta.pelayanan maksimal. Namun ketika pulang, aku tidak membawa Haram dan Kabah, ataupun hotel. Yang aku bawa adalah kenangan dan pelajaran.
Kenangan bagi raga yang pulang, tapi hati tertinggal di Harram, menetap bersama suasananya.
Dan pelajaran bagi diri yang pelan menyadari bahwa tawaf, sa’i, serta peribadahan lainnya dalam umrah, semua itu bukan hanya sebatas ritual saja. Tapi di baliknya terdapat banyak makna untuk dicerna.
Tawaf mengajarkan kesabaran. Aku dipaksa fokus menyelesaikan 7 putaran disertai zikir yang khusyuk, tanpa resah, tanpa marah, tanpa merasa diri ini siapa, walau badan kadang tersikut orang lain.
Sa’i mengajarkanku tegar dalam perjuangan. Tidak terpancing untuk lari kencang karena orang lain sudah hampir selesai pekerjaan. Tidak juga berjalan santai karena masih banyak orang yang tertinggal di belakang. Tapi jalan cepat dan lari kecil. Menandakan hidup ini jangan terlalu santai, karena hidup bukan permainan, juga tidak boleh terburu-buru, karena sifat terburu-buru adalah kebiasaan setan.
Serta hotel bintang lima bukan prioritas utama. Prioritas utama adalah, menjadikan hati dan akhlak agar senantiasa berbintang lima setelah pulang dari sana.
Kini aku sudah di tanah air, merenungi semua yang terjadi. Aku memahami, ternyata Allah memberi anugerah umrah ini bukan hanya agar aku bahagia semata, tapi juga agar aku merasa kecil di hadapan-Nya, dan bukan siapa-siapa di hadapan manusia.
Al-Harist Al-Muhasibi berkata:
"Ketahuilah bahwa engkau bukan apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada yang benar-benar engkau miliki selain dari apa yang engkau peroleh dari keridhaan Allah. Dan apabila engkau bertakwa kepada-Nya dengan menjaga hak-Nya, maka dia akan menjagamu dari keburukan selain-Nya"
لاØÙˆÙ„ ولا قوة الا باالله
"Tidak ada daya (untuk menghindari maksiat) dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan/kebaikan) kecuali dengan pertolongan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahu a'lam bishawab.
Via
IBRAH
Posting Komentar