OPINI
Sekolah Swasta Mendominasi Sekolah Negeri, Patut Dikoreksi
Oleh: Nurul Lailiya
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Tahun ajaran baru kali ini rupanya sangat memprihatinkan. Hal ini karena adanya beberapa sekolah negeri yang kekurangan murid. Mayoritas orang tua lebih memilih sekolah swasta yang mengajarkan pendidikan agama seperti ibadah, membaca Al Quran dan akhlak yang dinilai kurang diajarkan di sekolah negeri karena jam pelajaran agama di sekolah negeri hanya sekitar 2 jam tiap pekan. Alokasi waktu tersebut dianggap terlalu terbatas untuk mampu memberikan output maksimal dalam pembelajaran.
Patut diakui bahwa keputusan para orang tua untuk mempercayakan pendidikan putra-putrinya di sekolah yang mengajarkan agama juga didorong oleh kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi saat ini seperti narkoba, pergaulan bebas dan kenakalan lainnya.
Berdasarkan berita yang disampaikan oleh metrotvnews.com edisi 17 Juli 2026 sekolah yang kekurangan peminat itu tersebar di beberapa daerah di antaranya SD Gedung Meneng Bandar Lampung dengan jumlah 2 siswa yang mendaftar kelas 1, SDN Labuan 7 Pandeglang, Banten mendapat 3 murid kelas 1 dan yang paling miris adalah SDN Lamilanis, Blitar karena tahun ini tidak ada seorang anak pun yang mendaftar sebagai siswa kelas 1.
Selain karena kalah saing dengan sekolah agama, sekolah yang kekurangan murid itu juga disebabkan karena kurangnya fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar yang dimiliki. Hal ini tentu saja membuat calon murid dan wali murid enggan mendaftar sekolah di situ. Di daerah lain ditemukan penyebab yang berbeda yaitu tidak adanya lulusan TK yang menjadi penerus utama keberlangsungan sekolah itu.
Ternyata mahalnya biaya bukan satu-satunya masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini. Sebaran murid di tahun ajaran baru juga patut menjadi perhatian pemerintah dengan menjamin pemenuhan layanan dan fasilitas pendidikan yang memadai di seluruh pelosok negeri dengan kualitas yang baik.
Tapi upaya untuk mewujudkan solusi itu merupakan hal yang sulit dilakukan. Karena pemerintah tidak pernah serius memperbaiki dunia pendidikan kita. Yang ada mereka malah mengacak-acak sistem pendidikan yang ada dengan gonta-ganti kurikulum, sistem kelulusan, dan kenaikan kelas serta terkesan menggebu-gebu dengan memberlakukan sekolah digital, pembelajaran koding, AI, dan yang lain. Padahal masalah nyata yang dihadapi dunia pendidikan saat ini belum terselesaikan. Lagi-lagi rakyat disuruh berjuang sendiri untuk mendapatkan pendidikan, sementara pemerintah tidak pernah menempatkan diri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masa depan penerus bangsa.
Selain itu kehidupan ekonomi yang semakin sulit juga menyebabkan para pasangan mulai membatasi kelahiran bahkan enggan memiliki anak karena bagi mereka memiliki anak sama dengan menambah beban ekonomi keluarga.
Kenyataan ini sangat wajar kita alami karena sistem kapitalis sekulerlah yang mengatur tatanan hidup kita sekarang. Sistem ini tentu sangat kontras bila dibandingkan dengan sistem Islam yang aturannya sangat lengkap dan sesuai fitrah manusia. Daulah Khilafah, negara yang bersistem Islam menempatkan aturan syara' sebagai dasar untuk mengatur semua lingkup hidup manusia begitu juga dalam bidang pendidikan. Dasar Kurikulum yang digunakan dalam institusi Khilafah adalah akidah Islam.
Dengan menggunakan akidah Islam sebagai dasar maka kualitas lulusan pendidikan yang dihasilkan mampu berkepribadian Islam dan juga mahir dalam Iptek. Meski daulah wajib menyediakan sekolah untuk setiap anak tapi dalam daulah swasta juga boleh mendirikan sekolah dengan syarat mengikuti kurikulum yang ditentukan daulah.
Sedangkan takaran pemberian ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan lain diberikan sesuai jenjang pendidikan. Semakin rendah tingkatannya maka penanaman ilmu-ilmu agamanya lebih banyak. Dengan begitu sejak dini anak-anak telah memiliki pemahaman agama yang kuat dan diharapkan mampu menjadi pedoman untuk menghadapi masa depannya.
Perlu diketahui bahwa kurikulum negara Daulah bersifat tetap alias tidak berubah maka para guru tidak perlu disibukkan dengan sosialisasi pergantian kurikulum yang terkesan uji coba dan sering membingungkan guru, murid dan orang tua. Seolah wacana ganti kementerian, ganti kurikulum adalah sebuah kepastiaan seperti pada sistem kapitalis sekarang. Fasilitas yang ada juga mendukung kegiatan belajar mengajar dengan keamanan lingkungan sekolah yang terjamin. Selain itu akses menuju sekolah juga dipastikan mudah dijangkau dan aman meskipun sekolah itu berada di pelosok.
Tidak hanya itu pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam daulah diberikan secara gratis, harga kebutuhan hidup juga terjangkau. Dengan begitu tidak ada kekhawatiran bagi orang tua akan kesejahteraan keluarganya sehingga harus membatasi kelahiran atau tidak mau memiliki keturunan. Mereka hanya fokus bekerja untuk membiayai kebutuhan sandang, pangan dan papan.
Dari paparan di atas dapat kita sadari bahwa aturan Islamlah yang mampu menyelesaikan masalah pendidikan yang kita hadapi sekarang. Namun tidak semua umat Islam mengetahuinya. Sungguh amat disayangkan, bukan? Untuk itu kita wajib menyebarkan keluhuran aturan Islam ini. Mari sadarkan umat Islam yang lain bahwa agama ini tidak hanya mengatur ibadah keseharian saja tapi juga agama yang mengatur cara hidup agar meraih rida Allah Swt.
Via
OPINI
Posting Komentar