Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI AKI Tinggi di Saat Dokter Kandungan Surplus
OPINI

AKI Tinggi di Saat Dokter Kandungan Surplus

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
19 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Yuliana, S.E.
(Muslimah Peduli Umat)

TanahRibathMedia.Com—Realitas di lapangan angka kematian ibu sangat tinggi. Tahun 2020 kematian Ibu di Indonesia menjejak 189 per 100.000 kelahiran. Hal ini menimpa seluruh Ibu yang berada di Indonesia terkhusus di daerah perdesaan. Irene Sokoy (31) yang meninggal dunia akibat tidak ditangani oleh pihak medis. Sebelum meninggal ia sempat ditolak oleh beberapa rumah sakit. Ia mendapat pelayanan yang buruk dari rumah sakit di kampong Hobong, Sentani, Kabupaten Papua (Kompas.com, 4 juni 2026).

Nasib Ibu di Sistem Sekularisme

Ironis, angka kematian ibu (AKI) mencapai angka yang sangat tinggi di tengah-tengah surplus jumlah dokter kandung. Sangat disayangkan ketika jumlah dokter kandungan melimpah ruah tapi banyak Ibu yang menjadi korban. Tidak bisa kita pungkiri bahwa ini terjadi karena tiada pemerataan kesejahtraan di negara kita.

Dokter kandungan hanya menumpuk di kota-kota besar. Miris sekali yang dialami oleh masyaratakt perdesaan, terkhusus ibu yang hamil dengan medis serta peralatan medis yang minim. Saat terjadi insiden atau kebutuhan medis mendesak harus mengambil rujukan terlebih dahulu mengikuti prosedur yang seabrak. Pasien akan ditangani kalau persyaratan yang menyusahkan itu selesai. 

Tiap tahun dokter kandungan bertambah. Namun sangat disayangkan semuanya menumpuk di kota-kota besar saja, seolah-olah kesehatan hanya milik mereka-mereka yang tinggal di kota saja. Di daerah sangat menderita dokter kandungan sangat minim apalagi daerah 3T seperti Papua. Kesejahtraan di daerah ini sangat bertolak belakang dengan kesejahtraan masyarakat di kota-kota besar. Jelas sekali kesenjangan yang terjadi. Ini membuktikan bahwa skuler gagal dalam mensejahtraan rakyat, tidak adanya pemerataan dalam kehidupan bernegara. Tidak wujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat karena kesehatan dan pendidikan yang bagus itu hanya milik mereka yang bermodal.

Papua negeri yang kaya akan sumber daya alam tapi rakyat hidup dalam kemiskinan. Tidak tampak kemanusian yang adil dan beradab itu, sebab daerah yang kaya rakyat papa hasil dicuri dibawa lari rakyat di suruh gigit jari. Di mana letak hati penguasa negeri ini, beku atau mati. Hasil buminya dikeruk, rakyatnya meringkuk kesusahan. Jangankan untuk kaya untuk sehat saja harus mengemis menunggu mati. Penguasa tidak pernah melihat derita rakyat. Mereka sibuk berkoar rakyat sudah sejahtra hidup berkecukupan tidak ada lagi kemiskinan. Dengan dalih itulah tidak ada upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti kebutuhan kesehatan untuk rakyat. Mereka mengnggap nyawa rakyat ini hanya sebagai lelucon kapan-kapan saja mati.

Tingginya angka AKI menunjukkan gagalnya negara melindungi nyawa ibu. Hal ini jelas berdampak kepada kelangsungan hidup anak. Fakta menunjukkan kasus yang terjadi ketika ibu tak tertolong otomatis anak yang ada dalam kandungan akan ikut mati. Sayangnya penguasa sudah mati hati. Kapitalis memandang kesehatan hanya sebagai komoditas yang dipenuhi untuk tujuan materi yakni keuntungan semata. Karena demikian tujuannya tidak lagi sebagai pelayanan kepada rakyat. Kapitalisme abai terhadap distribusinya, yang mereka peduli hanya pada jumlah tenaga kesehatan saja. Negara bukan lagi sebagai pengurus rakyat, tapi hanya menjadi regulator.

Sekularisme bekerja atas dasar manfaat bukan syariat. Penganut sistem ini menghalalkan segara cara bukan dengan menerapkan cara yang halal. Mereka hanya memandang materi bukan pada pelayanan. Sesuai dengan istilah ada uang ada barang taka ada uang nyawa melayang. Salah satu penyebab tingginya angka AKI inii adalah pendistribusian dokter kandungan. Sebenarnya persoalan ini sitematis, yakni menyangkut jaminan pemerataan kesejahtraan  rakyat  dan pemerataan infrastruktur Kesehatan seperti ketersediaan faskes, RS, perawat, bidan, dan lain-lain.

Islam Menjamin Kesehatan Ibu

Islam menjamin kebutuhan pokok umat. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi rakyat, negara wajib memenuhinya. Islam memposisikan pemimpin sebagai prisai bagi rakyat. Negara Islam akan menyediakan infrastruktur, fasilitas, tenaga kesehatan, dan mendistribusikannya secara merata dalam jumlah yang cukup untuk seluruh rakyat yang diriayah. Terlihat jelas kezaliman ada di mana-mana dan dari segi manapu. Memimpin tidak berlandaskan syariat  rakyat menjadi sekarat sampai ke wafat. Sungguh dalam Islam pemimpin Islam sangat takut akan  azab Allah. Pemimpin Islam memimpin sesuai dengan printah Allah ukurannya halal haram. Pemimpin Islam sangat takut menjadi pemimpin yang zalim. Seperti yang Allah firmankan dalam Al Quran:

“Janganlah engkau mengiraAllah lengah terhadap apa yang telah dilakukan oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan siksaan atas merekahingg tibanya hari pdawaktu itu semata-mata mereka terbelalak. Saat itu mereka dating tergesa-gesa dengan mengangkat kepala mereka, sementara mereka tidak berkedip-kedip dan kalbu mereka kosong.” (TQS Ibrahim: 42-43)

Sekarang para pemimpin zalim mungkin bebas. Namun azab itu hanya ditunda sampai masanya nanti Allah akan memberi azab yang setimpal dengan perbuatannya. Untuk mewujudkan rakyat sejahtera merasa hanya dengan Islam. Memakai hukum Allah dalam mengatur negara, menjalankan dan taat terhadap syariat Allah merupakan kewajiban setiap Muslim. Untuk menerapkan itu semua butuh pemimpin dan pemerintahan Islam, dan untuk membentuk pemimpin dan pemerintahan sesuai syariat Islam butuh khilafah. Wallahu a’lam.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us