Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Rupiah Melemah, Beban Rakyat Semakin Berat
OPINI

Rupiah Melemah, Beban Rakyat Semakin Berat

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
30 Mei, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Nur Hasanah
(Sahabat Tanah Ribath Media)  

TanahRibathMedia.Com—Sepanjang sejarah berdirinya, sepertinya Indonesia mengalami kondisi keuangan terburuk di tahun 2026. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh level terendah terbaru. Pada Jumat (15/05), kurs dolar menyentuh Rp17.600. Sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari akan ikut terdampak, membuat masyarakat harus makin menekan pengeluaran. Seperti yang kita ketahui, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70%.

Bahan baku impor tersebut menopang banyak industri, mulai dari industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, farmasi, hingga otomotif. Sebagian besar barang jadi dari sektor industri tersebut hadir di sekitar kita, mulai dari halaman rumah, lemari, kamar, hingga dapur rumah kita (bbc.com, 21 Mei 2026). Maka, dengan nilai tukar rupiah yang semakin melemah, membuat harga-harga bahan baku impor terkerek naik karena transaksinya menggunakan dolar AS. Akibatnya rakyat di dalam negeri yang menjadi konsumen barang-barang tersebut semakin terhimpit, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjol.

Hari ini, rakyat di kalangan menengah ke bawah kebanyakan sudah bukan lagi makan dengan uang tabungan, tapi makan dari hasil utang. Sungguh miris, keadaan rakyat sudah sesulit ini tapi pemerintah menganggap bahwa kondisi yang dialami saat ini masih aman. Presiden mengatakan rakyat di desa tidak memakai dolar meski kurs rupiah terhadap dolar melemah. Padahal faktanya rakyatlah yang paling terdampak dan kesulitan akibat kondisi ini.

Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar ini tidak lain disebabkan karena posisi Indonesia sebagai negara yang menerapkan sistem hidup kapitalisme yang juga dianut oleh seluruh negara di dunia. Negara tidak memiliki kedaulatan mata uang sendiri, untuk transaksi internasional negara harus tunduk mengikuti ketentuan dunia yakni menggunakan mata uang dolar AS yang sejatinya ini adalah mata uang orang kafir.

Mata uang yang dipakai oleh negara kita terkategori sebagai fiat money, karena mata uang kertas yang digunakan untuk transaksi pembayaran tidak memiliki nilai intrinsik, sehingga ketika mata uang dunia naik, rupiah seolah tidak memiliki nilai apa apa. Akibatnya negara harus mengeluarkan jumlah uang yang lebih banyak untuk melakukan pembayaran terhadap pembelian barang barang impor dari luar negeri. 

Selain itu, konstelasi politik Internasional (perang AS-Iran) yang terjadi sejak Februari lalu ternyata juga sangat mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Namun sayang, pemerintah sepertinya tidak peka bahkan memandang remeh kondisi ini terhadap kehidupan masyarakat yang dianggap semuanya masih baik baik saja. Ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat ini akhirnya berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi. Setiap kebijakan yang diambil hanya mempertimbangkan nilai untung dan rugi, bukan demi kemaslahatan rakyat.

Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut, justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan, hingga jumlah utang semakin melambung.

Di dalam negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah, hal seperti ini tentu tidak akan terjadi. Sistem ekonomi Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, kuat dan independen, yakni mata uang dinar dan dirham yang menggunakan emas dan perak sebagai satuannya. Emas dan perak memiliki nilai intrinsik yang tetap yang tidak mudah dipengaruhi oleh kondisi apapun. Sehingga ketika terjadi krisis, sistem ekonomi negara tidak akan mudah hancur seperti sekarang.

Negara Islam juga akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat, seperti larangan riba, jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan dll. Negara tidak akan tunduk pada peraturan ekonomi yang diberlakukan oleh negara negara kafir. Di dalam Islam, kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin, karena pemimpin adalah raa'in yang wajib mengurusi urusan rakyat, sekaligus junnah yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup. 

Negara akan hadir menyelesaikan segala problematika yang dialami oleh rakyat dengan aturan Islam yang bersumber dari wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah, sehingga akan tercipta keadilan dan meminimalisir kedzaliman di tengah tengah masyarakat. Negara seperti ini tidak akan kita temui dalam sistem demokrasi kapitalisme yang ada sekarang, melainkan hanya ada dalam sistem Islam khilafah. Jadi untuk menyelesaikan segala permasalahan umat hari ini, dunia tidak bisa terus berharap dan mempertahankan sistem demokrasi, tapi harus segera beralih dan berganti pada sistem Islam yang agung.
Wallaahua'lam bisshowaab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us