OPINI
Refleksi 78 Tahun Peringatan Nakba
Oleh: Nurhy Niha
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Tragedi Nakba tahun 1948 merupakan titik awal dari penderitaan panjang bangsa Palestina, sebuah peristiwa kelam saat ratusan ribu warga diusir paksa dari tanah air mereka demi berdirinya entitas penjajah. Sejak saat itu, perjuangan rakyat Palestina dari masa ke masa tidak pernah surut demi mempertahankan tanah air dan kesucian Masjidil Aqsa.
Ironisnya, 78 tahun berlalu umat muslim di sana masih harus terus berjuang sendirian mengusir penjajahan. Sementara para pemimpin muslim dunia memilih diam dan enggan mengirimkan bantuan militer secara nyata.
Dilansir dari antaranews.com (15-5-2026), dalam peringatan 78 tahun Nakba, Liga Arab mendesak perlindungan internasional yang mendesak bagi rakyat Palestina dari kekejaman tentara pendudukan. Mereka menuntut Israel segera menghentikan seluruh tindakan ilegal dan agresif di wilayah-wilayah yang diduduki. Liga Arab juga menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara. Mereka menekankan pentingnya mendirikan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Liga Arab pun menyerukan dukungan pendanaan yang berkelanjutan dari dunia internasional demi menjamin kelangsungan hidup para pengungsi.
Perampasan Hak dan Kekejaman Penjajah
Tragedi Nakba bukanlah sejarah masa lalu yang sudah selesai. Ini adalah perampasan hak dan kekerasan yang masih terus membombardir bangsa Palestina hingga hari ini. Pada tahun 1948 korban jiwa tercatat sekitar 15.000 syuhada dan lebih dari 750.000 warga mengungsi. Sementara sejak 7 Oktober 2023 eskalasi genosida jauh lebih mengerikan dengan puluhan ribu nyawa melayang di Gaza, yang didominasi oleh anak-anak dan perempuan. Kerusakan infrastruktur pun meningkat drastis, dari penghancuran ratusan desa pada awal Nakba kini berubah menjadi perataan kota secara total, pemutusan akses air, listrik, serta fasilitas medis, yang membuktikan bahwa kekejaman penjajah tidak pernah berubah melainkan makin sistematis.
Penjajahan Palestina yang terus berlanjut adalah bukti nyata kegagalan sistem global sekaligus kelemahan nasionalisme. Sekat-sekat nasionalisme telah memecah belah potensi besar umat Islam, mengubah kekuatan kolektif yang seharusnya disegani menjadi entitas-entitas kecil yang lemah. Sehingga, konsep ini berhasil menyibukkan tentara negeri-negeri muslim di barak mereka sendiri, memaksa mereka sekadar menjadi penonton saat saudara seakidah dibantai.
Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan dari negara adidaya maupun lembaga internasional. Faktanya, institusi global seperti PBB, Dewan Keamanan, dan mahkamah internasional justru berfungsi melanggengkan penjajahan melalui hak veto serta keputusan tanpa realisasi. Menggantungkan harapan pada lembaga-lembaga ini hanyalah ilusi yang memperpanjang penderitaan. Sebab, sistem tersebut dirancang untuk menjaga kepentingan para penjajah, bukan untuk menegakkan keadilan bagi umat Islam.
Solusi Hakiki Pembebasan Palestina
Solusi hakiki bagi pembebasan Palestina yakni penegakan sistem kepemimpinan Islam yang universal. Khalifah dengan komadonya mampu mengusir penjajahan, memobilisasi pasukan, dan mengalahkan kekuatan negara pendukungnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung melaluinya (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Tanpa adanya perisai politik dan militer yang satu, tanah Palestina akan terus dieksploitasi oleh penjajah. Hari ini kita berjuang memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan yang nyata. Kepemimpinan Islam inilah yang akan menyatukan kembali visi, mengoordinasikan strategi, dan memobilisasi seluruh potensi kekuatan umat Islam yang selama ini terpecah.
Dengan bersatunya umat di bawah satu komando, kewibawaan umat ini akan kembali di mata dunia, sehingga umat Islam siap merebut kembali kepemimpinan global yang adil sekaligus menebar rahmat ke seluruh alam. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”.
Perjuangan pembebasan Palestina wajib dilakukan dengan persatuan umat karena Palestina adalah simbol harga diri, bumi para nabi, serta tanah ribath. Dakwah nyata dari kekuatan iman rakyat Palestina yang selalu berjuang tanpa rasa takut mati dan tidak gentar kehilangan harta benda demi mempertahankan tanah suci tersebut harus menjadi bara bagi muslim di belahan dunia lain. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 200:
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
Persatuan seluruh umat untuk menyambut seruan inilah yang akan menjadi kunci utama runtuhnya penjajahan di tanah Palestina.
Khatimah
Peringatan 78 tahun Nakba bukan sekadar momentum untuk meratapi deretan angka korban yang terus syahid, melainkan sebuah alarm keras yang menggugah kesadaran iman dan politik umat Islam. Tragedi yang bermula pada tahun 1948 dan kian membara hari ini di tanah Gaza adalah saksi bisu bahwa penderitaan Palestina tidak akan pernah usai jika umat ini terus berharap pada keadilan semu hukum internasional atau bergantung pada sekat-sekat nasionalisme yang membelenggu.
Via
OPINI
Posting Komentar