OPINI
Gaza Terus Dihancurkan, Umat Kehilangan Perisai
Oleh: Poppy Kamelia P. B. A (Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, dan Pegiat Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Di saat dunia berbicara tentang kemanusiaan dan hukum internasional, Gaza justru kembali dipukul tanpa jeda. Kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang membawa harapan bagi rakyat yang terkepung dicegat di perairan internasional. Sebanyak 211 aktivis ditangkap dan puluhan lainnya terluka. Mereka bukan tentara, bukan pelaku kekerasan, melainkan relawan yang ingin menembus blokade demi menyelamatkan nyawa. Namun bahkan tindakan kemanusiaan pun diperlakukan sebagai ancaman (Kompas.com, 1-5-2026).
Zionis berupaya membenarkan tindakan itu dengan menuduh kapal-kapal tersebut berada di bawah arahan kelompok yang mereka labeli sebagai teroris. Narasi ini bukan hal baru. Sejak lama, label tersebut digunakan untuk membungkam solidaritas dan melegitimasi agresi. Setiap bantuan dicurigai, setiap perlawanan dikriminalisasi, dan setiap suara yang membela Palestina dicap sebagai ancaman keamanan. Dunia seakan dipaksa menerima logika yang terbalik, di mana penjajah tampil sebagai korban, sementara yang tertindas justru disudutkan.
Sementara itu, fakta di lapangan menunjukkan tragedi yang jauh lebih besar. Hampir 300 jurnalis telah kehilangan nyawa sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa bahkan para penyampai kebenaran pun tidak dilindungi. Dalam kurun dua tahun, lebih dari 72.000 orang terbunuh dan ratusan ribu lainnya terluka. Infrastruktur sipil hancur hingga 90 persen. Rumah, rumah sakit, sekolah, bahkan tempat ibadah tidak luput dari serangan. Gaza bukan lagi sekadar wilayah konflik, tetapi telah berubah menjadi simbol penderitaan yang terus dipertontonkan kepada dunia (antaranews.com, 4-5-2026).
Pencegatan kapal bantuan di laut internasional menjadi bukti bahwa agresi ini tidak mengenal batas. Hukum laut internasional yang seharusnya menjadi rujukan bersama diabaikan begitu saja. Ini menunjukkan bahwa kekuatan yang ada saat ini bukan berdiri di atas keadilan, tetapi di atas kepentingan dan dominasi. Ketika hukum hanya berlaku bagi yang lemah, maka yang terjadi bukan lagi tatanan dunia, melainkan ketidakadilan yang dilegalkan. Yang lebih menyakitkan, tidak ada satu pun negara Muslim yang benar-benar hadir melindungi. Tidak ada armada laut yang dikirim untuk mengawal bantuan. Tidak ada langkah tegas yang mampu menghentikan blokade. Reaksi yang muncul sebatas kecaman, pernyataan diplomatik, dan seruan keprihatinan. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Gaza tidak membutuhkan kata-kata, ia membutuhkan perlindungan nyata.
Ketiadaan tindakan ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam. Sistem negara-bangsa yang hari ini mengatur dunia Muslim telah memecah kekuatan umat menjadi bagian-bagian kecil yang berdiri sendiri. Setiap negara sibuk dengan kepentingannya masing-masing, terikat oleh batas wilayah dan tekanan politik global. Akibatnya, ketika satu bagian umat diserang, yang lain hanya mampu menyaksikan tanpa daya. Sistem ini tidak dirancang untuk melindungi umat, tetapi justru membuatnya lemah dan terpecah. Padahal, dalam pandangan Islam, Gaza bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga. Membiarkan blokade dan penghancuran terus berlangsung tanpa upaya nyata adalah kemungkaran yang tidak boleh dibiarkan. Setiap nyawa yang hilang, setiap anak yang terluka, dan setiap rumah yang hancur adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban.
Islam tidak memandang persoalan ini sebagai konflik regional semata, melainkan sebagai kewajiban kolektif umat. Perlindungan terhadap jiwa dan kehormatan kaum Muslimin adalah bagian dari tanggung jawab besar yang tidak bisa ditunda. Dalam sejarahnya, umat Islam memiliki institusi yang berfungsi sebagai perisai, yang melindungi dan menjaga keamanan seluruh kaum Muslimin tanpa memandang batas wilayah. Perisai itu adalah kepemimpinan yang berdiri di atas akidah Islam. Sebuah kepemimpinan yang tidak tunduk pada tekanan politik global, tidak bergantung pada kepentingan ekonomi kapitalistik, dan tidak terikat oleh batas sempit nasionalisme. Dengan kekuatan politik dan militer yang terpusat, institusi ini memiliki kemampuan untuk melindungi, menghalau agresi, dan memastikan tidak ada satu pun wilayah kaum Muslimin yang dibiarkan terjajah.
Tanpa perisai ini, umat akan terus berada dalam posisi lemah. Setiap tragedi akan berulang dengan pola yang sama. Serangan datang, korban berjatuhan, dunia mengecam, lalu semuanya kembali seperti semula tanpa perubahan berarti. Ini bukan karena umat tidak peduli, tetapi karena tidak memiliki kekuatan terorganisir untuk bertindak. Karena itu, kemarahan umat atas tragedi Gaza tidak boleh berhenti pada emosi sesaat. Ia harus diarahkan menjadi kesadaran yang lebih dalam tentang pentingnya perubahan mendasar. Perubahan yang tidak hanya menyentuh kebijakan, tetapi menyentuh akar sistem yang mengatur kehidupan umat hari ini. Dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam secara menyeluruh harus menjadi fokus utama, mengikuti metode perjuangan Rasulullah dalam membangun kepemimpinan yang kuat dan berdaulat.
Gaza hari ini adalah cermin bagi umat. Ia menunjukkan betapa mahalnya harga dari kehilangan pelindung. Selama umat tidak memiliki perisai yang menjaga, maka luka demi luka akan terus terulang. Dan selama itu pula, dunia akan terus menyaksikan tragedi yang sama, dengan aktor yang sama, dan korban yang sama. Sudah saatnya umat tidak hanya berduka, tetapi bergerak menuju solusi yang hakiki. Bukan sekadar berharap pada belas kasihan dunia, tetapi membangun kekuatan sendiri yang mampu melindungi. Karena hanya dengan itulah, jeritan Gaza tidak lagi bergema tanpa jawaban, tetapi dijawab dengan tindakan nyata yang mengakhiri penderitaan.
Lebih dari sekadar isu kemanusiaan, tragedi ini adalah panggilan iman yang menuntut keberpihakan dan kesungguhan. Setiap detik yang berlalu di Gaza adalah pengingat bahwa ketidakadilan tidak akan berhenti hanya dengan simpati. Ia membutuhkan keberanian, persatuan, dan arah perjuangan yang jelas. Jika umat terus terpecah dan ragu melangkah, maka penderitaan itu akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa akhir.
Via
OPINI
Posting Komentar