Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Keracunan MBG, Alarm Keamanan Gizi Generasi
OPINI

Keracunan MBG, Alarm Keamanan Gizi Generasi

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
16 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Anggun Istiqomah
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pencegahan stunting dan peningkatan kualitas generasi justru berulang kali menyisakan ironi. Alih-alih menyehatkan, program ini berkali-kali memicu kasus keracunan massal di kalangan peserta didik. Fakta ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan alarm keras atas kegagalan negara dalam menjamin gizi dan keselamatan generasi masa depan.  

Dalam rentang waktu 1–13 Januari 2026 saja, tercatat sedikitnya 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan MBG. Jumlah ini bukan angka kecil, terlebih sebagian besar korbannya adalah anak-anak sekolah. Bahkan hingga akhir Januari, laporan korban terus bermunculan dari berbagai daerah. Dilansir dari Kompas TV (29-01-2026), lebih dari 600 siswa SMA di Kudus mengalami keracunan setelah mengkonsumsi MBG, dengan ratusan diantaranya harus menjalani perawatan medis. Sementara itu, Liputan6.com (28-01-2026) melaporkan kasus serupa di Tomohon, di mana puluhan siswa masih harus dirawat inap akibat keracunan makanan yang disediakan melalui program yang sama.

Kasus yang terus berulang ini menunjukkan bahwa persoalan MBG bukanlah insiden terisolasi. Ada masalah serius dalam standar keamanan pangan dan pengawasan pelaksanaan program. Makanan yang seharusnya memenuhi standar gizi dan higienitas justru berubah menjadi ancaman kesehatan. Dalam kondisi ini, wajar jika publik mempertanyakan: bagaimana mungkin sebuah program nasional dengan anggaran besar gagal menjamin aspek paling mendasar, yakni keamanan konsumsi?

Kecurigaan semakin menguat ketika anggaran MBG yang melonjak drastis justru memicu gugatan dan kritik luas. Jurang antara besarnya anggaran dan tujuan normatif program—mencegah stunting dan memenuhi gizi anak—terlihat semakin lebar. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa orientasi program ini cenderung bersifat proyek, menitikberatkan pada distribusi makanan dalam jumlah besar, bukan pada kualitas, keberlanjutan, dan dampak riil terhadap perbaikan gizi generasi. Dalam logika semacam ini, keberhasilan diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, bukan dari sehat atau tidaknya anak-anak yang mengonsumsi.

Lebih jauh, MBG sejatinya hanya menyentuh permukaan persoalan. Fokus pada distribusi makanan di sekolah tidak menyentuh akar masalah gizi buruk yang bersifat struktural. Persoalan gizi generasi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kemiskinan, rendahnya daya beli keluarga, ketimpangan akses pangan berkualitas, serta mahalnya layanan kesehatan. Semua ini adalah produk dari sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan kebutuhan dasar manusia tunduk pada mekanisme pasar.

Dalam sistem kapitalisme, negara cenderung berperan sebagai fasilitator, bukan pengurus rakyat. Tanggung jawab pemenuhan kebutuhan pokok sering kali dialihkan pada program-program tambal sulam yang bersifat jangka pendek. MBG adalah contoh nyata pendekatan semacam ini. Ia hadir sebagai solusi instan yang tampak populis, tetapi rapuh secara fundamental. Ketika pengawasan longgar dan orientasi proyek lebih dominan, keselamatan generasi pun dipertaruhkan.

Islam memandang persoalan ini dari sudut yang sangat berbeda. Dalam Islam, negara berkedudukan sebagai raa’in wa junnah—pengurus dan pelindung rakyat. Negara tidak sekadar membagikan bantuan, tetapi wajib memastikan terpenuhinya seluruh kebutuhan pokok rakyat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pemenuhan gizi generasi tidak dipandang sebagai proyek, melainkan sebagai kewajiban syar’i yang melekat pada penguasa.

Negara yang menerapkan Islam secara kaffah akan menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat sejak dari hulunya. Negara membuka lapangan kerja yang luas dan memastikan upah layak bagi kepala keluarga, sehingga keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya secara mandiri dan bermartabat. Di saat yang sama, negara memastikan distribusi pangan yang merata, berkualitas, dan terjangkau hingga ke pelosok wilayah, tanpa diserahkan pada spekulasi pasar.
Lebih dari itu, Islam mewajibkan negara menjamin layanan kesehatan dan pendidikan secara gratis dan berkualitas. Dengan fasilitas yang memadai dan pengawasan yang ketat, keamanan pangan dan kesehatan masyarakat tidak akan dikompromikan. Negara tidak akan membiarkan makanan berbahaya beredar di sekolah-sekolah, karena setiap kelalaian adalah pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan.

Kasus keracunan MBG yang terus berulang seharusnya menyadarkan umat bahwa persoalan gizi generasi tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan parsial dalam sistem yang cacat. Selama negara masih beroperasi dalam kerangka kapitalisme, solusi yang lahir akan terus bersifat tambal sulam dan berisiko mengorbankan rakyat. Islam menawarkan solusi yang bukan hanya manusiawi, tetapi juga struktural dan preventif. Menjamin gizi generasi berarti menata ulang sistem kehidupan, dengan negara sebagai pengurus sejati yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan masa depan rakyatnya.

Ùˆَاللهُ Ø£َعْÙ„َÙ…ُ بِالصَّÙˆَابِ
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Ustazah AI, Antara Inovasi Teknologi dan Urgensi Negara dalam Penjagaan Hukum Islam

Juli 18, 2026
Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Lg8t Musuh Bersama, Stop Menormalisasinya

Juli 18, 2026
Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Menegakkan Khilafah: Fardhu Kifayah yang Terabaikan

Juli 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us