Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda SP Langkah Kecil Melawan Fatherless
SP

Langkah Kecil Melawan Fatherless

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
04 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp



TanahRibathMedia.Com—Di tengah arus kehidupan modern yang kian menekan keluarga, sebuah kabar baik datang dari Kepulauan Riau. Gubernur Kepri menerbitkan Surat Edaran Gerakan Mengambil Rapor Bersama Ayah, sebuah ajakan sederhana namun sarat makna: menghadirkan kembali sosok ayah dalam ruang pendidikan anak (Batam Pos,18 Desember 2025).

Di banyak keluarga, momen pembagian rapor selama ini identik dengan ibu. Ayah kerap absen—bukan karena tak peduli, tetapi karena peran pengasuhan secara tak sadar telah dipersempit menjadi urusan domestik semata. Surat edaran ini seolah mengetuk pintu kesadaran bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah atau ibu, melainkan juga ayah.

Makna di Balik Gerakan Ayah Mengambil Rapor

Gerakan ayah mengambil rapor bukan sekadar soal kehadiran fisik di sekolah. Ia adalah simbol keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak, sebuah pesan bahwa prestasi, perilaku, dan masa depan anak adalah urusan bersama kedua orang tua.

Namun sejatinya, peran ayah dalam pendidikan anak tidak berhenti pada rapor. Pendidikan sejati berlangsung setiap hari di rumah: melalui teladan, komunikasi, pendampingan belajar, serta perhatian terhadap kondisi mental dan moral anak. Jika ayah hanya hadir saat rapor dibagikan, maka makna pengasuhan belum sepenuhnya terwujud.

Fatherless dalam Kehidupan Sekular

Dalam kehidupan yang diwarnai nilai sekular, anak-anak kian akrab dengan fenomena fatherless—kehadiran ayah yang minim secara emosional meski hadir secara fisik. Ayah diposisikan semata sebagai pencari nafkah, sementara urusan pendidikan dan pengasuhan dianggap bukan wilayah utamanya.

Kesibukan bekerja, tekanan ekonomi, dan tuntutan karier membuat banyak ayah jauh dari keseharian anak. Akibatnya, anak tumbuh tanpa figur pembimbing yang kuat, kehilangan arah, dan rentan terhadap krisis identitas, perilaku menyimpang, serta problem emosional.

Mengapa Peran Ayah Harus Dikembalikan

Gerakan ini penting karena mengingatkan bahwa ayah adalah aktor utama dalam pendidikan anak, bukan peran tambahan. Ayah semestinya membersamai anak, memastikan pendidikan berjalan selaras antara sekolah, rumah, dan nilai kehidupan.

Ketika ayah terlibat aktif, anak tidak hanya mengejar angka di rapor, tetapi juga tumbuh dengan rasa aman, disiplin, dan tujuan hidup yang jelas. Sebaliknya, absennya ayah dalam pengasuhan sering kali meninggalkan ruang kosong yang tak bisa digantikan oleh materi atau teknologi.

Perspektif Sistem Pendidikan Islam

Dalam sistem pendidikan Islam, peran ayah dan ibu sama-sama vital sebagai pendidik. Meski kewajiban utama ayah adalah mencari nafkah, Islam tidak pernah membebaskannya dari tanggung jawab mendidik dan membina anak.

Ayah diposisikan sebagai pemimpin keluarga yang memastikan:
• pendidikan anak berjalan sesuai nilai keimanan dan akhlak,
• lingkungan rumah kondusif untuk belajar dan tumbuh,
• anak mendapat teladan nyata dalam sikap, tanggung jawab, dan keteguhan prinsip.

Islam memandang pendidikan sebagai amanah bersama. Anak bukan sekadar calon pekerja, tetapi generasi penerus yang harus dibina secara utuh—akal, jiwa, dan moralnya.

Surat Edaran Gerakan Mengambil Rapor Bersama Ayah adalah langkah awal yang patut diapresiasi. Namun langkah ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi pintu masuk untuk mengembalikan peran ayah secara utuh dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Karena sejatinya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah yang baik, tetapi oleh ayah yang hadir, peduli, dan terlibat.


Ilma Nafia
(Sahabat Tanah Ribath Media)

Via SP
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat

Tanah Ribath Media- April 08, 2026 0
Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat
Oleh: Salma Rafida (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Perayaan Idulfitri yang semestinya menjadi momentum kemenangan dan kebahagiaa…

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us