Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Ketika Program Populis Mengabaikan Kemaslahatan
OPINI

Ketika Program Populis Mengabaikan Kemaslahatan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
06 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Ilma Nafiah
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Setahun sudah Program Makan Bergizi (MBG) digulirkan pemerintah dengan klaim sebagai solusi percepatan penurunan stunting. Namun fakta di lapangan menunjukkan hasil yang jauh dari harapan. Ancaman stunting tak kunjung hilang, sementara berbagai masalah serius justru bermunculan dan menimbulkan kegelisahan publik.

Program MBG yang berjalan sejak tahun lalu nyatanya belum mampu menyentuh akar persoalan stunting secara menyeluruh (Kompas). Alih-alih menurunkan angka stunting secara signifikan, masyarakat justru disuguhi rentetan persoalan: kasus keracunan massal makanan MBG, ditemukannya ompreng yang mengandung unsur babi, dapur SPPG yang tidak memenuhi standar kelayakan, hingga pembengkakan anggaran yang berdampak pada pengurangan anggaran sektor strategis lain seperti kesehatan dan pendidikan (Mediasulsel.com, 31 Desember 2025) 

Kondisi ini menunjukkan bahwa MBG bukanlah solusi substantif, melainkan proyek populis yang dipaksakan demi pencitraan.

Program Populis Kapitalistik: Jalan Pintas yang Salah Arah

MBG sejatinya lahir dari logika populisme kapitalistik. Dalam sistem ini, keberhasilan kebijakan diukur dari seberapa cepat dan masif program dijalankan, bukan dari sejauh mana ia benar-benar menyelesaikan problem rakyat. Yang terpenting program terlaksana, terpublikasi, dan menguntungkan para pemangku kepentingan bukan kemaslahatan masyarakat.

Stunting adalah persoalan struktural yang berkaitan erat dengan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, lemahnya layanan kesehatan, serta rendahnya edukasi gizi. Namun MBG justru direduksi menjadi proyek distribusi makanan instan tanpa perbaikan sistemik. Tak heran jika stunting tetap bertahan meski anggaran triliunan rupiah digelontorkan.

Lebih ironis lagi, MBG terus dipaksakan berjalan meskipun berbagai masalah krusial berulang kali muncul. Keracunan, pelanggaran standar halal dan kesehatan, hingga karut-marut pengelolaan dapur SPPG seolah dianggap “risiko biasa”. Ini menegaskan bahwa MBG bukan dirancang untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk mengamankan kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola proyek tersebut—yang sebagian besar merupakan kroni kekuasaan.

Kondisi ini sekaligus membuka tabir ketidakamanan penguasa kapitalistik dalam mengelola anggaran negara. Dana strategis yang seharusnya digunakan secara optimal demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat justru dikelola serampangan, sarat konflik kepentingan, dan minim pertanggungjawaban.

Islam dan Negara Raa’in: Kebijakan Berbasis Amanah dan Kemaslahatan

Berbeda dengan sistem kapitalistik, Islam memandang kekuasaan sebagai amanah. Dalam sistem Islam, negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat), bukan penguasa proyek. Setiap kebijakan wajib berorientasi pada kemaslahatan rakyat dan terikat penuh dengan hukum syariat.

Pemenuhan gizi rakyat dalam Islam tidak dilakukan secara parsial dan simbolik, melainkan integral dan sistemik. Sistem pendidikan berperan aktif mengedukasi masyarakat tentang gizi dan kesehatan sejak dini. Sistem ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu—pangan, sandang, dan papan—melalui distribusi kekayaan yang adil. Negara menyediakan lapangan kerja yang luas sehingga keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya tanpa bergantung pada bantuan temporer.

Sejarah Khilafah Islam mencatat bagaimana negara benar-benar hadir mengurus urusan rakyat. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra., ketika terjadi paceklik, negara mendirikan dapur umum yang dikelola langsung oleh negara, bukan diserahkan kepada pihak swasta atau kroni. Umar ra. bahkan menolak makan daging dan minyak samin hingga rakyatnya kembali kenyang (Tarikh ath-Thabari). Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kemiskinan dan kelaparan hampir lenyap karena distribusi kekayaan berjalan optimal, hingga sulit menemukan penerima zakat (Ibnu Katsir).

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menjadikan pemenuhan gizi sebagai proyek pencitraan, melainkan kewajiban negara yang dikelola dengan amanah, pengawasan ketat, dan visi jangka panjang.

Setahun MBG berjalan telah cukup menjadi cermin kegagalan kebijakan populis kapitalistik dalam menyelesaikan persoalan mendasar rakyat. Selama kebijakan disusun untuk kepentingan penguasa dan pengusaha, stunting akan tetap menjadi ancaman laten.

Sudah saatnya umat menyadari bahwa solusi hakiki tidak lahir dari tambal sulam kebijakan, melainkan dari perubahan sistem menuju sistem Islam yang menjadikan negara sebagai pengurus rakyat, bukan pedagang proyek.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat

Tanah Ribath Media- April 08, 2026 0
Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat
Oleh: Salma Rafida (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Perayaan Idulfitri yang semestinya menjadi momentum kemenangan dan kebahagiaa…

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us