Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda Nafsiah - Opini Menempatkan Sabar pada Tempatnya
Nafsiah - Opini

Menempatkan Sabar pada Tempatnya

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
15 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Pudji Arijanti
(𝘗𝘦𝘨𝘪𝘢𝘵 𝘓𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯)

TanahRibathMedia.Com—Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menimbulkan dampak berantai bagi perekonomian nasional, terutama pada sektor yang masih bergantung pada bahan baku dan barang impor. Kenaikan biaya impor menyebabkan biaya produksi ikut meningkat sehingga harga berbagai barang dan jasa di dalam negeri turut mengalami kenaikan. Dampak kondisi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat melalui naiknya harga kebutuhan sehari-hari, mulai dari pangan, energi, hingga berbagai produk konsumsi lainnya.

Pada saat yang sama, kenaikan harga berbagai kebutuhan tidak diikuti perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat, sehingga beban ekonomi rakyat kian berat dan kemampuan konsumsi mereka terus melemah. Akibatnya, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup semakin tergerus, terutama bagi kelompok menengah dan bawah yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi (kompasiana, 21-5-2026).


Antara Sabar, Tawakal, dan Ikhtiar 

Di tengah kondisi yang merebak, tidak jarang muncul seruan agar masyarakat bersabar menghadapi keadaan. Tentu saja, sabar adalah ajaran mulia dalam Islam. Allah Swt. memerintahkan kaum Muslim untuk bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Namun, jika persoalan sabar ditujukan pada kesalahan kebijakan sistem, tentu saja perlu dikritisi. 

Persoalannya bukan pada ajaran sabar itu sendiri, melainkan ketika seruan tersebut digunakan untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan penguasa dalam menunaikan amanahnya mengurus urusan rakyat. Islam tidak pernah mempertentangkan antara tawakal dan ikhtiar. Keduanya  kewajiban yang harus sama-sama ditunaikan. Rakyat diperintahkan bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt, tetapi penguasa juga wajib melakukan ikhtiar terbaik untuk menyelesaikan masalah yang menimpa rakyat. Islam mengajarkan ikhtiar dahulu (berusaha maksimal), lalu bertawakal kepada Allah atas hasilnya, tentu saja keduanya tidak boleh dipisahkan. 

Karena itu, ketika kesulitan ekonomi terjadi, tidak cukup hanya menyerukan kesabaran kepada rakyat. Harus ada evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang berpotensi menjadi penyebab munculnya masalah tersebut. Sebab, tidak semua kesulitan ekonomi murni merupakan takdir yang turun dari langit tanpa sebab. Kesulitan ekonomi yang dialami rakyat terlihat dari berbagai lini. Mulai dari mahalnya harga kebutuhan pokok, sempitnya lapangan kerja, meningkatnya angka PHK, melemahnya daya beli, hingga semakin sulitnya masyarakat mengakses pendidikan, kesehatan, dan hunian yang layak. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dijawab dengan seruan untuk bersabar semata, tetapi memerlukan solusi nyata dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Bahkan di negeri yang kaya sumber daya alam sekalipun, rakyat hidup dalam kesulitan karena pengelolaannya diserahkan kepada sistem yang keliru.


Islam Teladan Terbaik

Sejarah Islam memberikan teladan berbeda. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika terjadi paceklik besar yang dikenal sebagai '𝘈𝘮𝘶𝘳 𝘙𝘢𝘮𝘢𝘥𝘢𝘩 atau Tahun Abu, beliau tidak sekadar meminta rakyat untuk bersabar. Sebagai pemimpin, beliau mengerahkan seluruh kemampuan negara untuk mengatasi krisis. Bantuan pangan didatangkan dari berbagai wilayah. Surat-surat dikirim kepada para wali dan amil di berbagai daerah untuk mengirimkan bantuan. Negara hadir secara nyata untuk memastikan kebutuhan rakyat tetap terpenuhi. Rasulullah saw. bersabda,

"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim). (Disarikan dari artikel "Kisah Umar bin Khattab Ketika Madinah Mengalami Paceklik", SindoNews, 9 Mei 2023).

Kesabaran tetap dijalankan tetapi dibarengi dengan tindakan konkret dan tanggung jawab kepemimpinan. Inilah pelajaran penting yang sering terlupakan. Sabar adalah bagian dari syariat itu sendiri. Sedangkan bagi penguasa, kewajiban utama adalah mengurus urusan rakyat dan menghilangkan kesulitan yang menimpa mereka. Karena itu, menyerukan sabar kepada rakyat tanpa disertai upaya serius memperbaiki akar masalah bukanlah solusi Islam.

Pemimpin adalah 𝘳𝘢𝘢'𝘪𝘯 yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu, saat kesulitan ekonomi terjadi, yang dibutuhkan bukan hanya nasihat agar rakyat bersabar, melainkan juga keberanian untuk membenahi sistem pengelolaan negara agar kemakmuran benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Dengan demikian, sabar tetap terjaga sebagai ibadah yang agung, sekaligus tidak dijadikan alasan untuk membiarkan kegagalan pengurusan urusan umat.

Penutup

Menempatkan sabar pada tempatnya berarti menjadikannya sebagai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ujian, bukan sebagai alat untuk membungkam kritik terhadap penguasa. Rakyat memang diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt, tetapi penguasa wajib menjalankan amanahnya sebagai 𝘳𝘢𝘢'𝘪𝘯 yang mengurus urusan umat. Karena sesungguhnya keberkahan sebuah negeri terletak pada penerapan syariat Allah secara kaffah, yang menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi seluruh rakyat. 
𝘞𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘴𝘢𝘸𝘢𝘣
Via Nafsiah - Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us