Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Jumlah Dokter Kandungan Berlebih, Namun AKI Tinggi
OPINI

Jumlah Dokter Kandungan Berlebih, Namun AKI Tinggi

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
17 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)

TanahRibathMedia.Com—Indonesia memiliki kekayaan alam bernilai triliunan rupiah, tetapi di sejumlah daerah yang kaya sumber daya, akses kesehatan masih menjadi persoalan serius. Tragedi meninggalnya seorang ibu hamil berusia 31 tahun dalam perjalanan untuk melahirkan di Jayapura, Papua, pada akhir 2025 menjadi bukti nyata ketimpangan tersebut. Sebelum meninggal, ia dilaporkan ditolak di beberapa rumah sakit karena persoalan rujukan yang tidak terkoordinasi, keterbatasan ruang perawatan, serta tidak tersedianya dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa lemahnya akses layanan kesehatan dan sistem rujukan di daerah masih menyisakan pekerjaan besar yang harus segera dituntaskan (Kompas.com, 4-6-2026).

Angka kematian ibu (AKI) Indonesia tercatat sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara, padahal jumlah dokter kandungan secara nasional tergolong surplus. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar jumlah tenaga medis, melainkan distribusi layanan kesehatan yang tidak merata. Kebanyakan dokter kandungan terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah terpencil dan wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) masih kekurangan tenaga kesehatan. Perbedaan fasilitas, sarana pendukung, dan tingkat kesejahteraan membuat tenaga medis lebih banyak memilih bertugas di perkotaan. Akibatnya, masyarakat di daerah harus menghadapi risiko yang lebih besar untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak.

Upaya pemerataan melalui program WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) juga menghadapi berbagai hambatan. Selain adanya pandangan yang menganggap program tersebut bertentangan dengan HAM, negara juga belum optimal menjamin kesejahteraan dan fasilitas bagi dokter yang bertugas di daerah terpencil. Sementara itu, peralatan medis modern masih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar. Akibatnya, ketimpangan layanan kesehatan terus berlangsung dan masyarakat di daerah tertinggal tetap menjadi pihak yang paling dirugikan.

Kapitalisme Penyebab AKI Tinggi

Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari cara sistem kapitalisme memandang layanan kesehatan. Dalam sistem ini, kesehatan lebih diposisikan sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi daripada hak dasar yang wajib dijamin negara. Akibatnya, orientasi pelayanan kesehatan bergeser dari melayani kebutuhan rakyat menjadi mengejar efisiensi, investasi, dan keuntungan. Tidak mengherankan jika fasilitas kesehatan, tenaga medis spesialis, dan sarana penunjang lebih banyak terkonsentrasi di wilayah yang dianggap menjanjikan secara ekonomi, sementara daerah terpencil terus mengalami keterbatasan layanan. Padahal, tingginya angka kematian ibu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan bukan sekadar masalah medis, melainkan cerminan kegagalan negara dalam melindungi nyawa rakyat.

Distribusi dokter kandungan yang tidak merata memang menjadi salah satu faktor tingginya AKI. Namun, akar persoalannya lebih mendasar, yakni kegagalan negara mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan infrastruktur kesehatan hingga ke seluruh pelosok negeri. Akibatnya, tenaga kesehatan, rumah sakit, dan fasilitas medis menumpuk di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerah harus berjuang lebih keras untuk memperoleh layanan kesehatan yang menjadi hak mereka.


Dalam Islam Kesehatan adalah Hak Rakyat

Islam memandang kesehatan sebagai hak rakyat sekaligus tanggung jawab negara. Karena itu, negara wajib menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses, berkualitas, dan merata bagi seluruh rakyat. Dalam sistem Khilafah, negara tidak hanya menyediakan rumah sakit, tenaga kesehatan, dan obat-obatan, tetapi juga memastikan seluruh layanan tersebut terdistribusi hingga ke daerah terpencil dan perbatasan. Tidak boleh ada satu pun wilayah yang dibiarkan kekurangan dokter, bidan, perawat, maupun fasilitas kesehatan hanya karena letak geografisnya.

Selain itu, negara membangun infrastruktur pendukung seperti jalan, jembatan, dan sarana transportasi yang memadai agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan dengan cepat. Seluruh pembiayaan kesehatan ditanggung oleh negara melalui Baitulmal sehingga rakyat dapat memperoleh layanan kesehatan secara gratis tanpa dibebani biaya yang memberatkan.

Melalui mekanisme ini, negara berfungsi sebagai raa'in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab memastikan setiap warga memperoleh layanan kesehatan yang layak. Dengan demikian, persoalan tingginya angka kematian ibu tidak diselesaikan hanya dengan menambah jumlah dokter, tetapi melalui sistem yang menjamin pemerataan layanan kesehatan bagi seluruh rakyat. Hanya dengan cara itulah setiap ibu dapat memperoleh layanan kesehatan yang aman tanpa harus mempertaruhkan nyawanya.
Wallahu'alam bissawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us