Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Program MBG Ramadhan, Target Proyek atau untuk Rakyat?
OPINI

Program MBG Ramadhan, Target Proyek atau untuk Rakyat?

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
25 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Maryanti Syachrin
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan terhenti selama bulan suci Ramadhan 2026. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa program ini akan tetap berjalan melalui penyesuaian skema distribusi yang disesuaikan dengan karakteristik para penerima manfaat (https://www.bgn.go.id/news, 26-1-2026).

Senada dengan hal tersebut, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjamin bahwa operasional MBG diatur sedemikian rupa agar selaras dengan kebutuhan masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Langkah ini diambil guna memastikan pemenuhan gizi nasional tetap terjaga tanpa mengganggu kekhusyukan umat muslim dalam beribadah (https://www.kemenkopangan.go.id/, 29-1-2026).

Tentunya rencana pemerintah untuk tetap menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 menuai kritik tajam dari berbagai ahli. Kebijakan ini dinilai lebih mengedepankan aspek operasional infrastruktur dapur (SPPG) ketimbang pemenuhan gizi yang optimal dan penghormatan terhadap nilai-nilai ibadah.

Beberapa poin kritis yang menjadi sorotan utama meliputi:
Risiko Penurunan Kualitas Gizi: Pengamat pertanian CORE, Eliza Mardian, menyoroti bahwa penggunaan "makanan kering" agar tahan lama untuk dibawa pulang berisiko besar mengurangi kandungan nutrisi esensial. Hal ini menguatkan kesan bahwa kebijakan ini dipaksakan hanya agar rantai pasok tetap berjalan, tanpa memedulikan apakah gizi yang sampai ke anak-anak benar-benar berkualitas (Bisnis.com, 16-2-2026).

Intervensi terhadap Ranah Domestik: Ahli gizi Tan Shot Yen menekankan bahwa urusan asupan saat Ramadan idealnya dikembalikan kepada keluarga. Memaksakan distribusi makanan dari luar dianggap mengabaikan peran orang tua dalam mengatur pola makan anak saat berpuasa, yang sebenarnya lebih memahami kondisi fisik dan selera anak mereka.

Paradigma Berbasis Proyek (Profit-Oriented): Kritik paling mendasar muncul dari sudut pandang sistemik. Kebijakan yang tetap "kejar tayang" di bulan suci ditengarai lahir dari paradigma kapitalistik yang mengutamakan keuntungan pemilik modal dan perputaran anggaran di atas kemaslahatan rakyat. Dalam pandangan syariat, kebijakan seharusnya berpijak pada kemudahan ibadah dan kesejahteraan yang nyata, bukan sekadar memenuhi target kuantitatif proyek.

Pendidikan karakter melalui puasa adalah proses "menahan diri". Kehadiran distribusi makanan di lingkungan sekolah selama jam puasa, sekalipun untuk dibawa pulang, berisiko melemahkan semangat juang anak-anak kita. Pemerintah seharusnya lebih bijaksana: berikan jeda selama Ramadan agar keluarga bisa berdaulat atas gizinya, dan anggaran dapat dialokasikan untuk subsidi pangan pokok yang lebih merata bagi rakyat kecil.

Memberikan jaminan makanan bergizi pada anak dan keluarga, selain dibebankan pada para penanggung nafkah keluarga memang jadi tanggung jawab negara, yaitu ketika kondisinya tidak tercukupi. Mekanisme penjaminan makan dalam syariat diatur melalui mekanisme kepala keluarga, wali, kerabat yang mampu, tetangga yang mampu dan terakhir negara melalui Baitul mal.

Penjaminan negara terhadap kecukupan makan per individu harus murni pelayanan langsung, bukan dijadikan sebagai komoditas bisnis, target proyek dan peluang politik praktis. Ketahanan pangan yang kuat diwujudkan melalui sinergi yang berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat (beragam, bergizi, seimbang, dan aman) yang salah satunya melalui program MBG secara langsung, bukan menjadikannya komoditas bisnis yang eksploitatif, apalagi hanya sekedar mewujudkan janji kampanye.

Negara sebagai ra'in harus menjaga amanah dalam mengelola keuangan di Baitul mal, sesuai dengan fungsi dan skala prioritas, bukan soal kemanfaatan semata. Negara sebagai Ra'in (Penanggung Jawab): Konsep ini menegaskan bahwa pemimpin negara bertanggung jawab langsung atas kesejahteraan rakyat, memastikan kekayaan negara digunakan untuk kepentingan umum, terutama fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.

Amanah dalam Pengelolaan: Pengelolaan keuangan Baitul Mal harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan terstruktur, sebagaimana dipraktikkan pada masa Khulafaur Rasyidin.

Fungsi Baitul Mal: Fungsi utamanya mencakup pengumpulan, penyaluran, pendataan muzakki dan mustahik, serta pemberdayaan harta agama (seperti zakat) untuk kesejahteraan sosial.

Skala Prioritas: Penyaluran dana Baitul Mal harus berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahiq (penerima), bukan sekadar berdasarkan kemanfaatan material sesaat. Sebagai contoh, penyaluran zakat diatur berdasarkan 8 asnaf di mana kebutuhan mendesak lebih diutamakan.

Pendayagunaan Produktif: Selain konsumtif, dana dapat dimanfaatkan untuk usaha yang produktif untuk meningkatkan kualitas ekonomi umat. 

Dengan demikian, Baitul Mal bertindak sebagai institusi yang memastikan kekayaan umat dikelola sesuai aturan syariat untuk mencapai keadilan sosial, bukan sekadar memaksimalkan keuntungan atau manfaat ekonomis semata. 

Wallahu a’lam bishawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat

Tanah Ribath Media- April 08, 2026 0
Takbir di Tengah Reruntuhan: Alarm bagi Persatuan Umat
Oleh: Salma Rafida (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Perayaan Idulfitri yang semestinya menjadi momentum kemenangan dan kebahagiaa…

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us