OPINI
MBG di Bulan Ramadhan, untuk Rakyat atau Sekadar Kepentingan Proyek?
Oleh: Marlina Wati
(Muslimah Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Baru-baru ini, kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadhan dengan penyesuaian mekanisme penyaluran. Penyesuaian disiapkan agar layanan tetap menjangkau seluruh penerima manfaat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa ada penyesuaian khusus selama bulan suci ini. Di mana layanan tetap sampai ke penerima manfaat, tanpa mengganggu yang sedang berpuasa. Untuk anak-anak sekolah di daerah yang mayoritas berpuasa, makanan tetap dikirim seperti biasa. Namun kali ini dalam bentuk makanan tahan lama yang bisa dibawa pulang dan dinikmati saat berbuka.
Jadi, manfaatnya tetap terasa, meski waktunya berbeda. Sementara itu, di daerah yang mayoritas tidak berpuasa, program tetap berjalan normal tanpa perubahan. Begitu juga dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—mereka tetap menerima layanan seperti biasa karena kebutuhan gizi mereka tidak bisa ditunda.
Tak hanya itu, pemerintah juga sedang mematangkan rencana agar lansia dan penyandang disabilitas bisa ikut merasakan manfaat program ini. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa perhatian terhadap gizi bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk semua kalangan. Ramadan bukan alasan untuk berhenti berbagi (CnnIndonesia.com, 07-02-2026).
Penyaluran MBG selama Bulan Ramadhan, Emang Bisa?
Sungguh miris melihat negara masih menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadhan tanpa mempertimbangkan kondisi yang berbeda dari bulan biasanya. Saat umat Islam sedang fokus beribadah dan berpuasa, program pembagian makanan tetap berjalan seolah tidak ada perubahan situasi.
Bulan Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga tentang kepekaan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Jika program ini tetap dipaksakan tanpa penyesuaian yang tepat, wajar jika muncul anggapan bahwa yang dicari bukan sepenuhnya kesejahteraan rakyat, melainkan keuntungan atau pencitraan.
Anggaran yang digunakan tentu tidak sedikit. Masyarakat berhak bertanya, apakah program ini benar-benar efektif di bulan puasa? Apakah benar-benar tepat sasaran? Ataukah hanya proyek yang harus terus berjalan apa pun keadaannya? Negara seharusnya lebih peka terhadap momentum Ramadhan.
Kebijakan yang baik bukan hanya yang terlihat aktif, tetapi yang benar-benar memahami kebutuhan rakyat. Jika tidak, kepercayaan masyarakat bisa semakin berkurang. Ramadhan mengajarkan keikhlasan dan kepedulian. Semoga kebijakan yang diambil juga lahir dari niat yang sama, bukan semata-mata kepentingan tertentu.
Dampak Sistem Kapitalisme, Program MBG hanya Mengejar Keuntungan
Banyak yang menilai bahwa tetap dijalankannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), bahkan di bulan Ramadhan, adalah gambaran nyata dari sistem kapitalisme yang lebih fokus pada keuntungan dari pada kebutuhan rakyat. Dalam sistem yang berorientasi pada materi, kebijakan sering kali dihitung dari sisi anggaran, proyek, dan perputaran ekonomi, bukan dari sisi kebermanfaatan yang nyata.
Kapitalisme mendorong segala sesuatu berjalan dengan logika untung dan rugi. Program sosial pun bisa berubah menjadi proyek ekonomi. Ketika yang dikejar adalah serapan anggaran, kontrak, dan perputaran dana, maka nilai kepekaan terhadap kondisi masyarakat bisa menjadi nomor dua. Ramadhan adalah bulan yang seharusnya menjadi momen refleksi dan empati. Jika sebuah program tetap dipaksakan tanpa melihat efektivitas dan kebutuhan yang berubah, wajar jika muncul anggapan bahwa yang dicari bukan sepenuhnya kesejahteraan rakyat, melainkan keuntungan di baliknya.
Namun kritik juga harus disertai solusi. Jika memang ada yang salah dalam sistem, maka yang perlu diperjuangkan adalah kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat, transparan, dan tidak didorong oleh kepentingan ekonomi semata. Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh proyek yang besar di atas kertas.
Pandangan Islam
Dalam Islam, pemimpin adalah raa’in (pengurus rakyat) yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia urus. Setiap kebijakan harus berlandaskan kemaslahatan umat, bukan kepentingan tertentu. Jika program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan di bulan Ramadhan, maka yang perlu dilihat adalah niat dan manfaatnya. Dalam Islam, memberi makan adalah perbuatan mulia, apalagi di bulan puasa. Memberi makanan untuk berbuka bahkan termasuk amalan yang besar pahalanya. Namun Islam juga mengajarkan hikmah dan ketepatan dalam kebijakan. Jika pelaksanaannya tidak sesuai kebutuhan masyarakat atau tidak efektif, maka itu perlu dievaluasi.
Kebijakan dalam Islam bukan sekadar berjalan, tapi harus benar-benar membawa kebaikan dan tidak menimbulkan pemborosan. Ramadhan adalah bulan empati dan kepedulian sosial. Seharusnya program apa pun yang dijalankan lebih mengutamakan kebermanfaatan nyata, transparansi, dan keadilan dalam distribusi. Jadi, dalam pandangan Islam, bukan soal programnya jalan atau tidak, tapi apakah program itu benar-benar menjadi bentuk tanggung jawab pemimpin dalam menyejahterakan rakyat dengan cara yang bijak dan amanah, dalam Islam akidah umat akan di jaga oleh negara.
Via
OPINI
Posting Komentar