Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda Opini Sains
Opini

Sains

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
08 Okt, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Yeni Indri
(Humas Pondok Pesantren Ulul Ilmi Cendekia)

TanahRibathMedia.Com—Ketika mendengar atau membaca kata sains, apa yang kita pikirkan?

Secara umum orang akan berpikir tentang ilmu pengetahuan. Namun apa sesungguhnya sains itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sains diterjemahkan sebagai "ilmu", yang berarti:

Pertama; Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu (misalnya ilmu alam, ilmu kimia).

Kedua; Pengetahuan atau pengertian yang teratur tentang sesuatu, diperoleh dari studi, latihan, dan pengalaman.

Dalam konteks ini, sains merujuk pada sistem pengetahuan yang menggunakan metode ilmiah untuk mempelajari dan memahami fenomena alam, sosial, dan lainnya secara sistematis. Secara bebas sains itu terkait dengan metode sistematis yang digunakan untuk memahami alam dan lingkungan sekitar kita. Sistematis yang dimaksud berkaitan dengan pengamatan, pengumpulan data, eksperimen, analisis untuk memperoleh pengetahuan yang dapat diuji, diprediksi dan diterapkan. Tujuan berkelanjutannya adalah untuk memahami sunatullah, cara kerja sesuatu, agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui penerapan pengetahuan tersebut.

Berkaitan dengan sains, 14 Abad yang lalu, Al Qur’an telah banyak menyampaikan tentang sains.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (TQS. Al-Anbiya, 21:30).

Ayat ini sering dikaitkan dengan teori Big Bang, yaitu bahwa alam semesta awalnya bersatu sebelum akhirnya terpisah.

Al-Qur'an juga menggambarkan perkembangan embrio manusia. Dalam Surah Al-Mu’minun (23:12-14), Allah menjelaskan proses penciptaan manusia dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, dan akhirnya menjadi bentuk yang sempurna. 

Penjelasan ini dianggap sejalan dengan ilmu embriologi modern.
Dalam Surah Az-Zumar (39:5), disebutkan bahwa Allah menciptakan malam dan siang dalam sebuah rotasi, yang dianggap merujuk pada rotasi bumi. Selain itu, Surah An-Nazi’at (79:30) yang menyebutkan "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya"  Bentuk bumi yang bulat, namun datar di permukaan, sejalan dengan pandangan geosfer modern dan masih banyak lagi kandungan Al-Qur’an yang terkait fenomena alam yang kemudian terbukti secara ilmiah.

Al Qur’an yang berisi tentang sains juga secara legal formal memerintahkan manusia untuk mengamati dirinya, alam semesta dan kehidupan. Kemudian berpikir tentang ketiga hal tersebut untuk mencapai keimanan yang kokoh dan penghambaan kepada Rabb-Nya, Tuhan Semesta Alam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penghambaan yang totalitas.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (TQS Ali Imran, 3:190-191) 

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang  berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (TQS. Ar Rum, 30:20-21) 

Dengan motivasi ruhiyah dari Al-Qur’an, lahirlah para ilmuwan yang namanya digoreskan dengan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia. Seperti, Al-Farabi (872-950 M), Ibnu Sina (Avicenna, 980-1037 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M), Al-Biruni (973-1048 M). 

Seharusnya dengan motivasi yang sama, karena Al-Qur’an tetap ada dan dibaca oleh Muslim saat ini. Namun bagaimana dengan kita? generasi kita? Saat mengamati ketidakadilan, kedzaliman, menyimpangnya manusia dari fitrah penciptaan. Hamba yang terang-terangan ‘mengangkangi’ Pencipta-Nya dengan mengabaikan aturan-Nya. Bagaimana kita mengamati, berpikir dan menganalisis tentang semua itu? dan akhirnya bagaimana kita bersikap demi keberlanjutan kehidupan umat manusia terhadap realitas tersebut?

Walaupun kita tidak seperti Al-Farabi, tidak sepopuler Ibnu Sina, tapi kita adalah Muslim, yang harus memastikan bahwa akidah kita tidak akan tergoda oleh gemerlapnya dunia, bahwa apa yang kita miliki di dunia hanyalah sarana untuk beribadah kepada-Nya, bahwa kita tidak boleh diam di depan kedzaliman dan kemungkaran, dan bahwa kita tidak akan selamanya ada. Ada saatnya tiada dan yang tersisa hanyalah amal di sisi Allah. Wallahu ‘Alam Bishowab.
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler

Tanah Ribath Media- Juli 23, 2026 0
Muhasabah lil Hukkam Bukan Membangkang: Meluruskan Distorsi Dalil Ketaatan di Era Sekuler
Oleh: Prayudisti SP (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Panggung politik tanah air belakangan ini kerap diwarnai oleh benturan naras…

Most Popular

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Korupsi Jampidsus: Momentum Evaluasi Sistem Penegakan Hukum

Juli 21, 2026
Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Layanan HIV Diperkuat, Akar Masalah Tetap Dibiarkan

Juli 19, 2026
Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Sistemik Kapitalisme sebagai Pemicu Problem Mega Korupsi

Juli 21, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us