Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda Nafsiah Ramadan Bulan Ibadah
Nafsiah

Ramadan Bulan Ibadah

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
06 Mar, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 
Oleh: Zaitun Zahra
(Sahabat Tanah Ribath Media) 

TanahRibathMedia.Com—Seperti yang kita ketahui, Ramadan adalah bulan yang suci dan penuh dengan tebaran keberkahan.

Ramadan adalah hadiah istimewa dari Allah Ta'ala untuk kaum muslimin. Ramadan adalah ruang yang paling berharga yang di sediakan oleh Allah Ta'ala untuk umat Islam. Yakni, hadiah bagi mereka yang ingin bermanja dengan-Nya dalam bentuk ibadah, karena segala amal ibadah yang di lakukan akan mendapatkan pahala yang lebih besar di bandingkan di bulan-bulan biasa.

Maka, bagi siapa yang mendapati dirinya berkesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan, lalu ia mengisi Ramadan itu dengan amal ibadah yang bersungguh-sungguh, maka bersyukurlah ia, karena tidak semua muslim, dapat melaksanakan ibadahnya dengan bersungguh-sungguh (lalai).

Rasulullah saw. bersabda:

قَدْ آتََاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَاَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِبَرَكَاتٍ فَأكْرِمْ بِهِ

Artinya: "Telah datang kepadamu bulan Ramadan, penghulu segala bulan. Maka hendaklah engkau mengucapkan selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa dengan segenap berkah di dalamnya maka hendaklah engkau memuliakannya."

Ketahuilah bahwa, bulan ini adalah bulan yang diberkahi, di bulan ini juga diturunkannya Al-Qur'an, terjadinya peristiwa Lailatul Qadar (sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan) dan di bulan ini juga merupakan bulan dimana pintu maghfirah (ampunan) dibuka selebar-lebarnya.

Mengingat betapa mulianya bulan ini, maka alangkah bahagianya pada momentum Ramadan ini kaum muslimin dapat bersama-sama meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan, serta mengisinya dengan segala kebajikan. Dari segala keistimewaan Ramadan ini, yang paling penting bagi kaum muslimin adalah melaksanakan puasa, sebagaimana firman-Nya: 

يا ايُّهَا الّذِيْنَ امَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183).

Dalam ayat tersebut, tersirat makna bahwa puasa bukanlah baru terjadi ketika datangnya Islam, melainkan sebelum kedatangan Islam, puasa tersebut sudah di laksanakan oleh orang yang bukan Islam, seperti orang-orang Mesir kuno, orang-orang Yunani dan Romawi, demikian juga dengan orang-orang majusi, Budha, Yahudi dan Kristen telah mengenal puasa. Akan tetapi di dalam budaya dan ritual mereka sangat berbeda dengan Islam. Dalam karyanya "al-Fahrasat" Ibnu Nadim menyebutkan bahwa orang-orang Majusi berpuasa tiga puluh hari dalam setahun. Mereka juga melakukan puasa-puasa sunnah yang ditujukan sebagai penghormatan kepada bulan, Mars dan Matahari. Sementara At-Thabari dalam tafsirnya, Jami` al-Bayan, menyebutkan bahwa  seluruh pemeluk agama samawi (ahl kitab) diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa.

Bagi seluruh umat manusia (Islam dan bukan Islam) mempercayai bahwa puasa adalah ibadah yang bersifat universal, ia di pandang sebagai jalan yang lebih efektif dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Sedangkan dalam kacamata Islam sendiri, puasa memiliki kedudukan yang istimewa yang berbeda dengan ibadah-ibadah lain, seperti di dalam hadis Qudsi, Allah Ta'ala berfirman;

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ اِلا الصَّوْم فَاِنَّهُ لِي وَاَنَا أجْزِي بِهِ

Artinya: "Semua amal anak Adam (manusia) untuk dirinya sendiri kecuali puasa, sebab  puasa  itu  adalah untuk-Ku,  dan  Aku sendiri yang akan membalasnya."

Dari hadis tersebut, Allah mengatakan bahwa puasa itu untuk-Nya. Bermakna; karena ketika melaksanakan puasa, sebenarnya tidak ada yang dapat mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak.

Tidak menutup kemungkinan adanya orang yang terlihat berpuasa namun sebenarnya ia tidak melaksanakan ibadah puasa, yakni ketika dia berada dalam kesendirian bisa saja ia makan, minum atau mengumbar hawa nafsu  tanpa sepengetahuan orang lain. Maka puasa itu tak lain hanya di ketahui oleh Allah dan pelaku yang mengetahuinya apakah ia sedang berpuasa atau tidak. Berbeda dengan amal Ibadah zahir lainnya (salat, zakat, haji dan lainnya), lalu apakah yang membuat seseorang tetap menjaga puasanya?

Jawabannya adalah karena keimanan yang terpatri dalam jiwanya, sebab itulah puasa adalah ibadah yang lebih istimewa.

Ramadan adalah Bulan Ibadah, bukan Adat

Banyak dari umat hari ini, ketika datangnya Ramadan mereka begitu bersemangat melaksanakan ibadah, baik itu salat, baca Qur'an, zikir, istighfar, juga salawat, lalu kemudian ketika Ramadan berlalu, salat ditinggalkan, Qur'an sudah tak lagi di buka kecuali hanya sesekali, zikir dan istighfar pun sudah tak lagi di rutinkan. Lalu apakah hal yang demikian di larang? Tentu saja tidak, hanya saja umat memperlakukan bulan Ramadan layaknya seperti adat (melakukan sesuatu hanya ketika ada hari atau bulan yang di istimewakan) yakni di bulan Ramadhan, tentu ini bukanlah ajaran Rasulullah (beribadah hanya di bulan Ramadan).

ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadan saja.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa makna ungkapan ini adalah benar apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban agama setelah Ramadan. Semisal Ramadan rajin salat dan menutup aurat, namun setelah Ramadan salat bolong-bolong dan kembali mengumbar aurat. 

Maka di anjurkan untuk setiap muslim, setiap datang bulan Ramadan seharusnya mempersiapkan diri dan niat hanya untuk Allah dalam ibadahnya, dan keseriusan dalam menggapai maghfirah-Nya, agar setelah Ramadan ia masih menjaga amal ibadahnya.

Allahuta'ala A'lam.
Via Nafsiah
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Kontroversi yang Membuat Berbagai Reaksi dari Film Pesta Babi

Tanah Ribath Media- Mei 25, 2026 0
Kontroversi yang Membuat Berbagai Reaksi dari Film Pesta Babi
Oleh: Amy Sarahza (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Pesta Babi, salah satu judul film dokumenter karya anak negeri Dandhy Dwi Laks…

Most Popular

Ketika Aksi Freestyle Game Online Berujung Maut

Ketika Aksi Freestyle Game Online Berujung Maut

Mei 21, 2026
Lonjakan Pekerja Informal, Bukti Nyata Kegagalan Negara

Lonjakan Pekerja Informal, Bukti Nyata Kegagalan Negara

Mei 20, 2026
Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Mei 20, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Ketika Aksi Freestyle Game Online Berujung Maut

Ketika Aksi Freestyle Game Online Berujung Maut

Mei 21, 2026
Lonjakan Pekerja Informal, Bukti Nyata Kegagalan Negara

Lonjakan Pekerja Informal, Bukti Nyata Kegagalan Negara

Mei 20, 2026
Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Buruknya Pendidikan Saat Ini, Buah dari Sistem Kapitalisme

Mei 20, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us